Posted on November 8, 2009 by DAP
Darmin A. Pella
Customer Smile came from Employee Smile. Saya menggunakan kalimat ini untuk menyatakan bahwa hanya pegawai / karyawan yang puas yang dapat memberi pelayanan memuaskan pada pelanggan.
Pertanyaannya, apakah manajemen melakukan cukup upaya dan investasi untuk mempelajari faktor-faktor yang memuaskan karyawannya? Lebih jauh lagi, apakah policy and program dirancang untuk meningkatkan kebahagiaan karyawan bekerja di perusahaan? Tulisan ini menjadi catatan atas project Employee Opinion Survey yang saya lakukan bersama perusahaan.
Read more »
Filed under: Corporate Culture, Human Resources Management | Tagged: Employee Opinion, Employee Satisfaction, Kepuasan Karyawan | Leave a Comment »
Posted on November 2, 2009 by DAP
Darmin A. Pella
Setelah tiga hari memandu, memfasilitasi, melakukan focus group discussion, dan menghasilkan technical competence tree untuk salah satu klien dalam hal ini PT TASPEN (PERSERO), Saya tertarik untuk membuat catatan mengenai hard competence di blog ini. Tulisan ini adalah salah satu catatan atas Workshop Hard Competence yang diselenggarakan AIDA Consultant bekerjasama dengan PT TASPEN (Persero).
Hard competence memiliki beberapa istilah yang kurang lebih berarti sama. Beberapa istilah sama tersebut digunakan secara bergantian dalam literatur, maupun penggunaan praktis perusahaan. Istilah hard competence dapat disinonimkan dengan istilah lain seperti technical competence, technical knowledge & skill, funtional competence, dan beberapa perusahaan bahkan menggunakan istilah business competence.
Read more »
Filed under: Human Resources Management | Tagged: core competence, funtional competence, hardcompetence, technical competence, technical knowledge & skill | Leave a Comment »
Posted on August 22, 2009 by DAP
Darmin A. Pella
Organisasi di masa depan dicirikan oleh karakteristik New Economy seperti mengedepan kan Knowledge Assets, bersifat Transdisciplinarity, membutuhkan Innovative Cultures, dan persaingan satu sama lain berada pada kondisi Permeable Boundaries.
Ini merupakan antitesis atas kondisi Old Economy yang mengedepankan Physical Assets, membutuhkan keahlian Homogeneous Disciplines, dengan situasi Fixed Cultures, dan persaingan masih dapat diterangkan dalam kondisi Defined Boundaries.
Ambil contoh Nokia. Nokia adalah pemimpin industri ponsel dengan pangsa pasar global sebesar hampir 40%. Saat ini, mereka dihadapkan pada masalah persaingan bukan hanya dengan sesama produsen ponsel, tetapi dengan pemain utama software seperti Microsoft, dan media seeprti Sony. Batas-batas persaingan antar industri mempertemukan ketiga pemimpin pasar dalam bidang kompetensi intimasing-masing tersebut kini di satu meja persaingan pertumbuhan bisnis global, akibat produk yang makin terintegrasi.
Meski memimpin pasar, atas agresifitas pemain lainnya, pertumbuhan penjualan ponsel Nokia yang secara global mengalami stagnasi. Untuk mengatasi masalah ini, Nokia mengadopsi strategi harus mengeluarkan produk inovatif berupa kombinasi antara telpon selular dengan merangsek ke kemampuan multi-media dan aplikasi (gabungan antara ponsel, mini-laptop, digital music, video, game, dan lain-lain).
Persoalannya, dalam produk inovatif ini, Nokia harus berhadapan dengan teknologi baru yang mungkin selama ini tidak mereka kuasai secara fasih seperti halnya mereka menguasai teknologi ponsel. Seberapa jauh Nokia akan berhasil dalam memasuki pasar yang baru itu, amat bergantung pada sejauh mana kapasitas belajar (learning capacity) yang dimiliki oleh Nokia.
Read more »
Filed under: Corporate Culture, Personal Development | Tagged: Corporate Culture, Djamaluddin Ancok, Ikujiro Nonaka, Knowledge Management, Learning Organization, Peter Senge | Leave a Comment »
Posted on July 11, 2009 by DAP
Darmin A. Pella
Misteri pemilu 2009 mulai terkuak. Melalui quick count, Susilo Bambang Yudhoyono unggul, disusul Megawati, dan Jusuf Kalla. Setelah hiruk-pikuk masalah koalisi pelangi, kampanye di saat kegiatan resmi, netralitas lembaga survei, hasil survei kontroversial, persuasi opini satu putaran, DPT bermasalah, soliditas mesin partai, debat-santun (a contradictio in terminis), sejumlah pelajaran bisa kita tarik dari Pemilihan Presiden kali ini.
Pelajaran apa saja yang bisa kita peroleh melongok proses dan hasil pemilu 2009 ini?
Read more »
Filed under: Marketing | Tagged: Kampanye, Pemilu | 5 Comments »
Posted on May 31, 2009 by DAP
Darmin A. Pella
Tugas seorang bawahan adalah membuat atasannya tidur nyenyak. Tugas seorang atasan adalah memikirkan masa depan bawahannya. Bawahan membuat atasannya tidur nyenyak bila ia berhasil mendemonstrasikan result orientation, bahkan sudah anticipative thinking menyelesaikan kemungkinan masalah yang akan muncul. Atasan memikirkan masa depan bawahannya bila ia mengambil amanah mengembangkan kompetensi, motivasi, komitmen dan karir bawahannya ke level tertinggi.
Demikian ungkapan yang saya sampaikan dalam Workshop Mentoring: Prepare Others to Succeed di Pembangunan Jaya Ancol Tbk (kode emiten Bursa Efek Jakarta: PJAA).
PJAA bergerak dalam bidang properti, real estate pengelolaan taman hiburan, dan lain-lain. Salah satu anak perusahaan adalah PT Taman Impian Jaya Ancol yang mengelola Ancol, sebuah sarana rekreasi berisikan berbagai macam wahana dan menjadi sarana rekreasi keluarga favorit di Jakarta.
Perbincangan board visioning dengan Budi Karya Sumadi, Direktur Utama PJAA, mengungkapkan bagaimana perusahaan ini memiliki impian mencetak Ancol Man. SDM yang bekerja secara total dan dengan sepenuh hati. Selalu berkaitan dengan nurani, tidak semata memikirkan kompensasi (karena dengan bekerja baik otomatis kompensasi dan apresiasi akan datang dengan sendirinya). SDM pintar, kompeten dan bermain secara total sangat dibutuhkan karena SDM PJAA berada dalam perusahaan jasa. Life cycle sangat pendek sehingga kalau bekerja secara standar akan tertinggal oleh persaingan. Semua ini bermuara pada pentingnya mengembangkan critical competence: entrepreneurship.
Kompetensi kritikal inilah yang menjadi backbone tema pengembangan SDM di PJAA saat ini. Dalam rangka menopang agenda Ancol Spectacular yang ditandai dengan ekspansi usaha.
Lantas bagaimana membangun pemimpin masa depan yang berjiwa entreprenur?
Read more »
Filed under: Corporate Culture, Strategic Management | Tagged: Entrepreneurship, Kewirausahaan, leadership, Talent Management | 1 Comment »
Posted on May 23, 2009 by DAP
Darmin A. Pella

Tiga kali memandu 3 Days Performance Management Training: Getting The Best from Our People di Sumber Alfaria Trijaya Tbk, menjadi sumber ide tulisan ini. Alfamart adalah emiten lantai bursa berklasifikasi perdagangan retail yang berdiri 22 Feb 1989. Alfamart memiliki 2.800 gerai (77% gerai sendiri, sisanya waralaba), 11 cabang dan pusat distribusi dengan penjualan pada 2008 Rp 8 triliun. Bahkan, Alfamart juga mengembangkan pasar minimarket dengan membuat Alfamidi dan Alfa Kios. Dengan pegawai sekitar 37 ribu, Alfamart senantiasa mengejar new module development dan peningkatan training mandays sebagai demonstrasi komitmen pengembangan SDM yang tinggi.
Oleh karena dalam Performance Management Training saya memandu setiap peserta menemukan KPI-Based On Position. Kemudian menerjemahkan setiap KPI menjadi Improvement Action Plan. Maka tulisan ini berangkat dari hasil diskusi, bagaimana membantu karyawan peserta Performance Management Training mengimplementasikan skills yang telah difasilitasi melalui workshop. Bagaimana memastikan transfer of learning workshop memiliki dampak sampai Kirkpatrick Level 3: Behavior. Dan bagaimana mendorong PDCA Progress Review atas Improvement Action Plan karyawan mencapai dampak Kirkpatrick Level4: Business Result.
Read more »
Filed under: Human Resources Management, Strategic Management | Tagged: PDCA, Strategy Execution | Leave a Comment »