Darmin A. Pella
Einstein menyatakan pentingnya formula sederhana dalam menyelesaikan suatu masalah. E=mc2 menunjukkan bagaimana kesederhanaan pendekatan memberi manfaat optimal. Oleh karena itu kami akan memulai dengan hal sederhana.
Coba cermati diskusi mengenai suatu masalah. Entah itu di kafe, stasiun, atau executive lounge. Apakah itu dalam kendaraan, ruang seminar, ruang kuliah, ruang tele conference, rapat kabinet, atau board meeting. Menariknya, di manapun muncul diskusi mengenai satu masalah, tidak pernah dalam diskusi tersebut kita tidak menyebutkan unsur manusia sebagai penyebabnya. Kita bisa sesekali waktu tidak menyebutkan masalah peralatan, kendaraan, mesin, metode, prosedur, atau teknologi karena memang tidak ada masalah dalam hal tersebut. Kita bahkan bisa tidak menyebutkan keuangan, dana, atau kendala investasi sebagai sumber problem, karena kita tidak mengalami masalah dalam hal itu.
Tetapi menariknya, kita tidak pernah absen menyebutkan salah satu sumber masalah -dan seringkali muncul sebagai penyebab paling dominan- adalah unsur manusia: sang pelaku, pelaksana, penanggungjawabnya. Bahkan pada beberapa kasus, ketika kita menyatakan masalahnya adalah keuangan, peralatan, kendaraan, metode, prosedur, atau teknologi, proses root-cause analysis, track-back dan pin-down dapat berakhir pada unsur manusianya. Masalah di level seksi, departemen, divisi, atau korporasi dikontribusikan oleh faktor manusia. Masalah di desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten, kotamadya, dan provinsi lebih dari setengahnya ada pada masalah kualitas manusia. Masalah organisasi, perusahaan dan negara dengan segera kita sadari dimulai dari dan berakhir pada manusia.
Suatu negara bersaing dengan ratusan negara lainnya di planet yang sama. Suatu perusahaan bersaing dengan belasan perusahaan lainnya dalam industri yang sama. Dan di urutan ke berapa posisi perusahaan atau negara tersebut dalam persaingan, sangat ditentukan oleh manusianya. Lebih tepat lagi, ditentukan manusia yang bertalenta, pemimpin yang benar-benar bekerja.
Persaingan Cara Berpikir
Pangsa pasar yang mendominasi, produk berkualitas, sistem layanan yang bagus, atau teknologi yang tinggi, adalah hasil dari konsep, cara berpikir, perencanaan dan eksekusi sekelompok individu bertalenta. Dengan demikian bila kita berpikir kembali ke awal, back to square one, ke fondasi bersaing paling mendasar, maka sesungguhnya kita bersaing di level talenta.
Ini era perang talenta (talent war era). Peperangan mungkin terlihat di tingkat pasar, tetapi pasar bukan tempat persaingan yang sesungguhnya. Peperangan di tingkat konsumen terjadi karena adanya persepsi perbedaan produk dan layanan. Produk dan layanan antar perusahaan seolah-olah menunjukkan persaingan, tetapi produk dan layanan adalah hasil dari perbedaan kualitas proses antar perusahaan, sehingga persaingan di level yang lebih dalam adalah terjadi di level proses. Tetapi proses apapun, baik manufaktur maupun jasa, dikerjakan oleh manusia. Manusialah yang menentukan kualitas proses, yang selanjutnya menentukan kualitas produk dan layanan, dan selanjutnya menentukan persepsi kualitas di mata konsumen, dan selanjutnya menentukan pangsa pasar (market share).
Oleh karena itu, bila kita ingin kembali ke fondasi bersaing sesungguhnya, pembenahan pertama-tama haruslah pada aspek manusia di dalam perusahaan. Peperangan bukan di tingkat pasar. Peperangan bukan pula di level produk. Peperangan bukan di level proses. Peperangan bukan di level aplikasi teknologi. Peperangan ada di level talenta.
Persaingan sesungguhnya antar organisasi bukan di pasar (not in the market), tetapi dalam kepala (but in the brain). Persaingan bukan pada produk (not in the product), tetapi pada cara berpikir (but in the mindset).
Tantangan manajemen saat ini adalah memenangkan perang talenta (talent war). Perang talenta adalah situasi di mana perusahaan-perusahaan saling berlomba-lomba mengalahkan satu sama lain dalam rangka memperoleh talenta terbaik yang ada di pasar tenaga kerja. Kemampuan memenangkan perang talenta berpengaruh pada kemampuan memenangkan pasar. Ini menimbulkan tuntutan bagi perusahaan agar lebih mumpuni dalam melakukan proses penyeleksian talenta dengan lebih terampil. Perusahaan juga dituntut lebih baik lagi dalam memotivasi dan memelihara talenta-talenta terbaik tersebut di perusahaan.
Talent Management melibatkan bagaimana perusahaan mengelola secara strategis sistem untuk memikat, merekrut, mengembangkan, mempertahankan, mempromosikan, dan memindahkan karyawan di dalam organisasi sedemikian sehingga organisasi beroperasi dengan cara yang paling efektif .
Talent management yang efektif dapat diukur secara bisnis melalui meningkatnya corporate scorecard seperti pendapatan, kepuasan pelanggan, kualitas, produktivitas, seiring dengan menurunnya biaya, waktu proses, dan inefisiensi.
Filed under: Corporate Culture, Human Resources Management, Strategic Management Tagged: | Talent Management, Talent War

tulisan yg inspiratif dan nyata, modal intelektual menjadi faktor menentukan. dan itu adalah aset yang tak terbatas. thanks…
Saat anda mencantumkan rumus terkenal Einstein E=mc^2 saya teringat cerita isteri ketika mendengar seorang nara seumber pada suatu seminar yang bercerita pengalamannya saat bertakziah kepada Habibie yang baru saja kehilangan Ibu Ainun yang dicintai.
Dia barkata,”Bapak tidak perlu merasa kehilangan Ibu Ainun, karena Pak Habibie tahu rumus Einstein dimana ada massa (m) yang merupakan Bapak yang masih hidup dan ada cahaya (c) yang merupakan Ibu yang masih ada disekitar sini, sehingga energi yang dihasilkan akan tetap ada di hati Bapak”.
Pak Habibie merespon, “Betul yang kamu katakan”.
Sepakat dengan pemilik blog, Darmin Pella, Energi positif yang kita hasilkan akan selalu merupakan bagian dari aktifitas kita (action) dan doa (light). Mudah-mudahan komentar ini bermanfaat.
salam hangat dan sukses selalu untuk anda
KP
Permisi Bapak Darmin Pella,
saya ingin menanyakan, apakah Buku yang membahas lebih dalam mengenai Pemetaan Talenta (Talent Mapping) dan Buku tentang Pengembangan dan Retensi Talenta (Talent Development and Retention) sudah di-publish?
Terima kasih atas tanggapan Anda.
Terima kasih atas atensi Anda, sebagai bagian Trilogi Talent Management, maka Buku Pemetaan Talenta (Talent Mapping) dan Buku tentang Pengembangan dan Retensi Talenta (Talent Development and Retention) direncanakan terbit 2012, Saat ini saya akan merampungkan dulu Buku “The Preferred Employer”, mohon doanya semoga berjalan lancar… Terima kasih, DAP.
Amiin saya doakan Lancar dan sukses Pak.
Saya tertarik dengan talent mapping 5×5 Bapak. Saya ingin tanya Pak, kira2 gambaran teknik2 retensi untuk tiap2 klasifikasi (MVP,Promising MVP, star player s/d Managing people out of target) dari talent mapping 5×5 Bapak itu bagaimana ya Pak?
Terima kasih atas perhatian dan tanggapan Bapak.
Hormat saya,
Gioliano
Saya mendiskusikan prinsip mengenai hal tsb: tidak semua membutuhkan retensi, tidak semua perhatian retensi terbagi rata, tidak semua industri/perusahaan memiliki strategi retensi yang sama, teknik retensi perlu dibedakan sesuai level kompetitif jabatan, generational profile dan karakteristik bisnis, tks DAP
Salam hormat dan salam hangat
Perkenalkan nama saya Budi.Just reminder, kala itu kita pernah bersua dalam sesi training PDCA di PT Asalta Mandiri Agung.Saat ini saya bekerja di PT Bukaka.Menarik membaca tulisan Bapak seiring dengan upaya saya saat ini mewujudkan ” good manufacturing process”. Layaknya hutan belantara dimana memungkinkan untuk segala keadaan dan dimungkinkannya semua kemungkinan, maka pertanyaannya ,”where do we start?.Kiranya berkenan untuk memberikan masukannya.Terima kasih dan salam sukses.
regards,
Budi Hartanto
Where do we start? Ketika saya mengalami ini, saya mempelajari semua kemungkinan, berdiskusi dengan seluruh stakeholder, melist down all the possible project, buat affinity diagram, matrix evaluasi nilai strategic program (effort vs impact), sort initiatives strategic vs non strategic, ada banyak cara untuk menemukan pola masalah, pola solusi, bagaimana keterkaitan setiap solusi, dan mana solusi yang paling memungkinkan berdampak paling besar pada ‘all corporate level and function’ sebagai titik point start program. Dengan kata lain, “mulailah menggambar”. Terima kasih, DAP
bukunya berisi tulisan yang runtut, jelas dan mudah dipahami pak
semoga seri selanjutnya dari trilogi talent management bisa segera diluncurkan.
Terima kasih, senang mendapatkan komentar buku tsb memenuhi tujuannya. Semoga buku berikutnya juga mendapatkan sambutan positif, tunggu ya