MENGATASI HAMBATAN CORPORATE ENTREPRENEURSHIP

Darmin A. Pella

Saya beruntung bisa bertemu Joe Kamdani, founder Datascrip.  Beruntung pula mendapatkan kesempatan pertama membaca kunci sukses keberhasilannya dalam buku “Succeed Above Success, berhasil di atas Keberhasilan” yang diilhami semangat corporate entrepreneurship.

Berulang kali, Pak Joe, demikian beliau akrab disapa karyawan Datascrip, menyatakan pada saya bahwa penting sekali bagi manajemen membantu karyawan melihat bahwa apa yang dikerjakan para wiraniaga adalah sebuah usaha mandiri. Penting sekali  manajemen membantu keberhasilan karyawannya. 

Sebab bila karyawan Anda berhasil, maka keberhasilannya tentu akan berujung pada keberhasilan perusahaan Anda. Gaya manajemen intrapreneurship ini, yang kemudian dituangkan menjadi sistem manajemen penghargaan prestasi bagi karyawan yang berhasil dalam penjualan dan disebut sebagai LP-100, dapat disebut sebagai salah satu best practices Datascrip. 

Apa itu Inisiatif intrapreneurship?

Suatu program mengubah posisi karyawan dari pekerja menjadi pemilik usaha mandiri (independent busines owner). Inisiatif ini dapat menjadi jalan keluar kebutuhan korporasi untuk membesarkan bisnis, sekaligus menyalurkan kebutuhan karyawan untuk bertindak sebagai pengusaha, penentu nasibnya sendiri. 

Pada gaya manajemen corporate entrepreneurship atau intrapreneurship, karyawan diberikan kebebasan terbatas didalam struktur formal perusahaan, di dalam kerangka manajemen usaha perseroan, untuk mengembangkan usahanya sendiri. Bila ini dilakukan suatu unit usaha, maka apa yang dilakukan termasuk level kelompok (group-level entrepreneurship). Bila ini dilakukan setiap karyawan secara individual, maka pengembangan kewirausahaan di dalam tubuh perusahaan ada pada level individual (individual-level entrepreneurship). Ide intrapreneurship menyalurkan hasrat alamiah karyawan untuk mandiri, keluar dari pola atasan-bawahan dan perasaan menjadi “pekerja” semata. 

Morris & Kuratko (Corporate Entrepreneurship, 2002) memang menandaskan bahwa intrapreneurship perlu dipertimbangkan perusahaan menghadapi:

a) perubahan dramatis di pasar,

b) downsizing untuk meningkatkan efisiensi,

c) mengatasi kelemahan dalam manajemen korporasi tradisional,

d) kompetisi global serta

e) eksodus karyawan bernaluri bisnis tinggi akibat perusahaan yang kelewat birokratif. 

Yang penting bagi manajemen kemudian ialah bagaimana membuat upaya intrapreneurship dalam perusahaan mencapai keberhasilannya. Dan untuk berhasil, tentu saja tidak mudah.

Ada enam tantangan yang disebut Morris (Entrepreneurial Intensity, 1998) sebagai penghambat inisiatif intrapreneurship di perusahaan Anda. 

Pertama, hambatan arah strategik (strategic direction). Agar berhasil maka dibutuhkan pimpinan atau manajemen puncak di perusahaan Anda yang dapat menjadi panutan (role model) bagi karyawan.  

Kedua, hambatan struktur (structure). Harus diakui kebanyakan struktur korporasi kita di Indonesia sekarang merefleksi manajemen tradisional, bukan manajemen corporate entrepreneurship. Pola top-down, command & control management, yang kuat, bisa membuat karyawan terbelenggu oleh tugas-tugas yang sangat menyibukkan dari atasan langsung. Karyawan diberi tanggungjawab untuk mensukseskan program penjualan tetapi atasan tidak memberi ruang gerak melakukannya (reponsibility without authority).

Coba cermati siapa saja atasan yang dininabobokan pola struktur kaku menjadi “the boss”.  Lihat dan lakukan pelatihan atau konseling pada atasan-atasan yang berharap bawahan memiliki perilaku pekerja, sehingga tidak siap melihat bawahannya mempraktekkan perilaku wirausahawan.

The greatest difficulty in the world is not for people to accept new ideas, but to make them forget about old ideas, kata ekonomis John Maynard Keynes. Struktur yang kaku juga menimbulkan kesulitan komunikasi. Bila karyawan menghadapi kesulitan komunikasi dan konsultasi terkait perannya sebagai wiraniaga, maka mereka akan kesulitan menjalankan perannya di lapangan. 

Ketiga, hambatan sistem (system). Ini terkait apakah imbal jasa dan sistem evaluasi kinerja di perusahaan Anda sesuai dan motivatif bagi karyawan. Bisa saja karena insentif terlalu kecil, karyawan Anda tidak termotivasi untuk menjadi wirausahawan. Manajemen boleh saja berharap karyawan lebih berperilaku wirausahawan, tetapi ternyata sistem evaluasi kinerja tidak memberi insentif ke arah itu.   

Keempat, hambatan kebijakan dan prosedur (policies & procedures). Ini terkait bagaimana manajemen membuat kebijakan yang memudahkan karyawan untuk mendorong identifikasi peran baru sebagai wirausahawan. Bisa saja segera inisiatif ini diluncurkan tidak ada pedoman jelas yang Anda sediakan. Segala sesuatunya menjadi membingungkan karyawan. Banyak pertanyaan tak terjawab. Motivasi karyawan berhadapan dengan ketidakjelasan sistem dan prosedur. Bahkan bila prosedurnya jelas namun kompleks, karyawan yang ingin mendapatkan insentif malah kehilangan motivasi karena proses administrasi yang terlalu rumit, membutuhkan banyak persetujuan dan persyaratan.

Kelima, hambatan karyawan (people). Ini terkait bagaimana membenahi pola pikir, sikap dan mental karyawan sendiri agar bisa menerima peran sebagai wiraniaga dengan senang. Program ini pasti mengguncang karyawan, ada yang pro maupun kontra. Ada yang senang karena setuju, tetapi tetap ada kemungkinan muncul kecemasan. Tidak semua karyawan senang melihat karyawan lain “berbisnis di dalam bisnis”, apalagi sukses sebagai wirausahawan menggunakan sumber daya korporasi. Ada kemungkinan resistensi perubahan peran atau kurangnya minat karyawan (lack of concern, complacency). Tidak semua orang senang menjual. Maka belum tentu semua karyawan mendukung inisiatif ini. 
Keenam, hambatan budaya (culture). Perlu diperhatikan budaya apa saja yang sudah terbangun di perusahaan Anda selama berdiri belasan tahun, dan bentrok dengan nilai-nilai entrepreneurial yang akan dibangun. Perlu diwaspadai petinggi atau karyawan yang menjadi laggard, sehingga bukannya mendukung tetapi malah melontarkan ide-ide untuk membunuh inisiatif intrapreneurship yang masih bayi (dap).

One Response

  1. […] Baca Overcoming Obstacles to Creating a Corporate University … Baca Integrating Technology into Instruction in Higher Education … Baca Mengatasi hambatan Corporate Etrepreneurship … […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: