CORPORATE ENTREPRENEURSHIP ALA TELKOM

Darmin A. Pella
” Usaha membangun corporate entrepreneurship atau intrapreneurship yang kemudian dapat beralih menjadi extrapreneurship, sesungguhnya adalah jawaban, contoh model, atau salah satu jalan keluar dari niat banyak pengusaha besar Indonesia untuk berkiprah dalam pengembangan unit-unit usaha kecil menengah mandiri, yang dapat mengembangkan ekonomi Indonesia di masa depan.”

 

Belum lama berselang, Telkom mengumumkan kepada publik bahwa karyawannya boleh bisnis sampingan. Agak aneh, sebab dibandingkan pendapatan rata-rata karyawan di Indonesia, pendapatan pegawai Telkom sudah sangat baik. Sebelumnya Telkom melarang karyawannya memiliki bisnis sampingan seperti wartel.

Apakah inisiatif intrapreneurship ini akan berhasil?

Para pengamat menyatakan adalah usaha menahan kejaran agresif Star One Indosat dan Esia Bakrie Telecom, maka Telkom merubah kebijakan tersebut. Kini, para karyawan Telkom boleh, dianjurkan bahkan didukung berbisnis sampingan. Caranya, menjual telepon Flexi. Bisa bentuk layanan Flexi Classy yang prabayar fixed wireless terminal (FWT), atau menjual voucher isi ulang. Sasarannya, voucher untuk meningkatkan pendapatan PT Telkom, sementara penjualan kartu perdana untuk percepatan penambahan pelanggan.

Inisiatif ini membuat Saya kini menjumpai pegawai dalam jaringan Telkom yang selain melakukan aktifitasnya sehari-hari, mereka juga sekaligus menjual layanan Flexi. Telkom memiliki sekitar 30.000 pegawai, mereka juga umumnya tinggal di kompleks perumahan yang berkualitas. Bayangkan kalau istri, anak, pembantu, sopir dikerahkan untuk jualan Flexi, ketenarannya pasti akan mengalahkan Fuji Image Plaza atau gerai Indofood. Dari pelanggan 1,8 juta, Telkom berharap melalui penjualan 30.000 pegawai plus plus tadi maka target 3,5 juta pelanggan di akhir tahun dapat terpenuhi. 

Tidak perlu diperdebatkan yang dilakukan Telkom tepat atau keliru dalam menghadapi persaingan bisnis seluler yang luar biasa ini. Yang menarik ialah mencermati bagaimana inisiatif baru di alam korporasi Indonesia ini berkutat menuju keberhasilan. Dan yang pasti, ada gairah baru di PT Telkom ketika pimpinan perusahaan mengumumkan bolehnya bisnis sampingan tersebut.

Menarik sekali. Mengingatkan kita pada Schuler (1986), bahwa “the question to corporation is not whether they should or should not engage in entrepreneurial activity, but rather whan can be done to encourage establishment of entrepreneurship”.

Jadi isu utamanya bukan perlu atau tidak perusahaan menumbuhkan kewirausahaan. Tetapi justru apa yang dapat dilakukan untuk menumbuhkannya.

Ide entrepreneurial menyeruak di tahun 1980 sampai 1990-an. Gerakan ini kemudian membuat kita mengenal Gifford Pinchott (1985, Intrapreneuring) sebagai pencetus istilah corporate entrepreneurship atau intrapreneurship adalah. Gifford menjelaskan bahwa tantangan setiap perusahaan saat ini adalah membangun keunggulan kompetitif. Dan aktifitas intrapreneurship menjadi salah satu disiplin yang dipercaya dapat menjadi jalan keluar peningkatan kinerja korporasi di tengah persaingan yang makin gila-gilaan.

Terlalu dini mengatakan sejauh mana inisiatif Telkom akan berhasil. Hambatan mungkin muncul pada aspek inkompetensi karyawan, faktor politik kantor, sistem imbal jasa, kekurangan sumber daya, kehilangan legitimasi program, kurangnya sponsor manajemen, serta resistensi terhadap perubahan. Terlalu dini mengatakan sejauh mana inisiatif Telkom akan berhasil. Hambatan mungkin muncul pada berbagai aspek. Dibutuhkan disiplin eksekusi mengatasi hambatan kebijakan, struktur, sistem, proses, orang (people), dan budaya. Bila Telkom berhasil mengatasi hambatan-hambatan di atas, maka ia layak menjadi benchmark bagi perusahaan lain. Telkom akan menjadi trendsetter betapa corporate entrepreneurship dapat hidup dalam budaya korporasi Indonesia. 

Sekali lagi, bila berhasil, bisa jadi dimasa depan inisiatif intrapreneurship Telkom ini mengarah pada extrapreneurship. Di mana karyawan dan perusahaan secara bersama-sama dan sepakat memilih memutuskan hubungan pola pengusaha-pekerja (employer-employee). Menjadi hubungan B2B (principal- supplier). Mengganti kontrak karyawan menjadi kontrak bisnis.

Extrapreneurship menguntungkan kedua pihak. Pengusaha masih tetap memiliki akses pada kompetensi karyawannya yang unik, tetapi dengan fleksibilitas lebih dan tanggung jawab lebih kecil. Karyawan pun, yang kini menjadi pengusaha pemula (novice entrepreneur), memiliki pelanggan yang komit sejak awal pendirian usahanya, sehingga kemungkinan keberhasilan dalam fase perintisan usaha menjadi lebih mudah.
Usaha membangun corporate entrepreneurship atau intrapreneurship, yang kemudian dapat beralih menjadi extrapreneurship sesungguhnya adalah jawaban, contoh model, atau salah satu jalan keluar dari niat banyak pengusaha besar Indonesia untuk berkiprah dalam pengembangan unit-unit usaha kecil menengah mandiri, yang dapat mengembangkan ekonomi Indonesia di masa depan (dap).

%d bloggers like this: