EKSEKUSI STRATEGI (1)

Darmin A. Pella

 

Saya menemukan sebuah hasil studi yang amat menarik, dipublikasikan Harvard Business Review. Awalnya, penelitian ini dilakukan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan “di antara ratusan pilihan sistem manajemen yang ada, sistem manajemen apakah yang benar-benar membantu perusahaan menggapai kepemimpinan di industri?”.

Bertahun-tahun kita telah melihat konsep manajemen datang dan pergi. Total Quality Management (TQM), Segmentation-Targetting-Positioning (STP), Core Values, Core Competence, Value Based Management (VBM), Activity-Based Costing (ABC), Enterprise Resources Planning (ERP), Business process Reengineering (BPR), Six Sigma, Knowledge Management (KM), Intellectual capital (IC), Customer Relationship Management (CRM), Supply Chain Management (SCM), Balanced Scorecard (BSC), Competence Based Human Resources Management (CBHRM), dan seterusnya, semuanya memunculkan janji-janji peningkatan kinerja perusahaan.

Ya, begitu banyaknya konsep manajemen tersebut sehingga muncul pertanyaan besar “konsep manajemen manakah yang paling berdaya dongrak tinggi? Para profesional bertanya-tanya, konsep manakah yang betul-betul efektif? Sistem apa sesungguhnya yang benar-benar mampu meningkatkan performa perusahaan?

Kondisi ini pula yang mengerakkan Nitin Nohria, William Joyce dan Bruce Roberson untuk mencari jawaban rasa ingin tahu yang besar tersebut melalui sebuah studi. Melalui studi longitudinal, secara hati-hati mereka memeriksa lebih dari 200 praktek manajemen yang diterapkan lebih dari 10 tahun di 160 perusahaan mapan.

Hasil studi yang diungkap pada Harvard Business Review tersebut mengungkapkan temuan menarik. Kesimpulan yang ditemukan: “tidak ada satu sistem manajemen mana pun yang dapat diklaim memiliki daya ungkit tertinggi pada kinerja perusahaan”. Nitin dkk menemukan secara empiris bahwa jenis konsep manajemen yang digunakan tidak memiliki hubungan langsung dengan performa bisnis superior.

Persoalannya bukanlah pada sistem manajemen apa yang Anda terapkan. Tetapi pada “apakah Anda mengeksekusi sistem tersebut dengan sepenuh hati?”.  Tidak masalah sistem mana pun yang Anda anut, sepanjang Anda mengeksekusinya sepenuh hati dengan usaha yang tak kenal lelah.

Temuan ini terbukti di lapangan.  Coba Anda cermati di seluruh dunia.  Perusahaan pemimpin industri, di berbagai jenis industri, ternyata tidak menggunakan konsep manajemen seragam. Mereka menggunakan konsep yang berbeda.

 

  • Toyota mendemonstrasikan kehandalan TQM. 
  • McD mengatribusikan kesuksesannya pada SCM. 
  • Canon pada Core Competence. 
  • Microsoft pada Intellectual Capital. 
  • Coca Cola pada Brand Management. 
  • Nokia pada Core Value , 
  • GE sukses berkat Six Sigma. 
  • Mobil Oil berterima kasih pada BSC. 
  • Singapore Airlines menunjukkan betapa membantunya CRM
  • dan seterusnya.

 

Apa yang ingin saya tunjukkan pada Anda?  

Tidak masalah sistem manajemen apa yang Anda pilih. Masalahnya pada “apakah Anda mengeksekusinya sepenuh hati?”.

Robert S. Kaplan & David P. Norton dalam salah satu buku best seller-nya The Strategy Focused Organization menulis sebuah studi atas 275 manajer portofolio. Pendapat para manajer portofolio tersebut sejalan dengan pendapat Nitin: kemampuan perusahan mengeksekusi strategi jauh lebih penting dari strategi itu sendiri. Bagaimana perusahaan mengeksekusi strategi adalah faktor yang sangat penting dalam pembentukan sistem manajemen korporasi.

Sebuah studi lain yang dilakukan J. Low and T. Siesfield dalam Measures That Matter yang diterbitkan Ernst & Young  mendukung temuan ini. Dari sepuluh faktor non finansial yang dipertimbangkan para analis finansial dalam melakukan valuasi korporasi, ternyata faktor “eksekusi strategi (the execution of corporate strategy)” menduduki urutan teratas faktor terpenting. Dari hasil studi yang sama, “kualitas dari strategi itu sendiri (the quality of corporate strategy)” menempati urutan ketiga.

Kenyataan ini cukup mengagetkan mengingat selama dua dekade, para konsultan, pakar manajemen strategik dan media bisnis menulis bahwa perusahaan harus berfokus pada upaya memformulasikan strategi superior untuk menghasilkan kinerja superior. Perkembangan alat-alat bantu analisis strategik yang makin canggih membuat formulasi strategi yang superior kini bukan lagi barang langka. Perkembangan ini menggugah kesadaran baru bahwa formulasi strategi tetap adalah sebuah aspek penting, tetapi untuk benar-benar berhasil, ia masuk ke kategori “cukup tetapi bukan hanya itu” (sufficient but not enough).

Memiliki konsultan yang dapat meramu strategi tidaklah cukup.  KIta harus mencari konsultan yang mampu menemani perusahaan kita mengeksekusi strategi sampai ke level terbawah dalam organisasi kita. 

 

“It is not matter what your concepts. What matter, do you execute it flawlesly”. 
Tidak masalah sistem mana pun yang Anda anut, sepanjang Anda mengeksekusinya sepenuh hati dengan usaha yang tak kenal lelah.”

 

Menariknya lagi, di tahun 1980-an sebuah survei diselenggarakan oleh konsultan Walter Kiechel dan dimuat di majalah Fotune, 27 Desember 1982 (Corporate Strategist Under Fire) menemukan bahwa lebih sedikit dari 10% strategi yang diformulasikan secara efektif diimplementasikan dengan sukses.

Selang hampir dua dasawarsa kemudian, di tahun 1999 majalah Fortune juga merekam pengakuan para CEO di perusahaan gagal yang menyatakan bahwa “penekanan terlalu tinggi pada pentingnya memformulasikan visi dan strategi telah mendorong munculnya kesimpulan keliru bahwa memformulasikan strategi adalah satu-satunya yang dibutuhkan untuk berhasil. Dalam banyak kasus”, kata mereka, “ada sekitar 70% kasus problem kegagalan perusahaan bukanlah pada strategi yang buruk, tetapi bagaimana mengeksekusinya”.

Temuan-temuan di atas menunjukkan bahwa ada rentang 70% sampai 90% kegagalan perusahaan disebabkan oleh eksekusi strategi. Kenyataan ini membuat kalangan bisnis semakin menyadari bahwa eksekusi strategi jauh lebih penting daripada strategi itu sendiri (dap).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: