JOBDESC DAN KPI

Darmin A.  Pella

Kunjungan ke satu perusahaan dalam group Sumitomo di kawasan industri MM2100 baru-baru ini  memunculkan pertanyaan menarik: “Dapatkah kita membuat KPI (Key Performance Indicator), Indikator Kinerja,  tanpa menyempurnakan job description?”.   

Alangkah indahnya bila kita memiliki job desc sebelum membuat KPI.  Sebuah binder tersaji didepan kita. Berisikan dokumen job seluruh posisi yang jumlah ratusan di perusahaan kita.  Didalamnya terdapat job desc yang isinya lengkap, detail, update, dan telah diverifikasi manajemen.

Selanjutnya kita menemui pemegang jabatan yang sudah paham betul pekerjaannya.  Kita bertemu job holder yang bisa menjelaskan isi job descnya dengan baik.  Kita  mendapatkan pemegang jabatan yang tahu betul apa indikator kegagalan dan keberhasilan pekerjaannya. 

Lalu kita tinggal memahamkan sedikit kepada pemegang jabatan  apa itu Key Performance Indicator (KPI). Dimensinya.  Contoh KPI yang baik.  Cara penulisannya.  Lantas kita melihat pemegang jabatancepat memahami, lalu bisa langsung mengidentifikasi sendiri indikator keberhasilan pekerjaannya.   

Situasi di atas amat baik bila dapat terjadi.  Indahnya.  Ah, seperti di Republik Mimpi.

Ya. Situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari di perusahaan tidaklah demikian. 

Kita lebih sering menemui kondisi di mana job desc lengkap, detail, update, dan telah diverifikasi manajemen tidak tersedia.   

Kondisi realnya adalah job desc tidak ada.  Atau job desc ada sebagian namun tidak update.  Atau seluruh job desc  ada namun tidak jelas dimana letaknya.   Atau job desc lengkap dulu pernah ada.  Atau muncul pertanyaan job desc itu apa? bagaimana membuatnya? 

Kita bisa menempuh alternatif pertama, perbaikan job desc.  Mulailah dengan pembentukan tim,  refreshing,  penyamaan format, tatacara menulis, wawancara, penulisan, reviu, perbaikan, dan mungkin dalam 4-6 bulan penulisan serta update job desc selesai. 

Tetapi, sebagian  Anda mungkin setuju, kinerja tidak dapat menunggu.  KPI harus jelas hari ini juga. Untuk tujuan itu, muncul alternatif kedua: temukan KPI hari ini, agar ia bisa segera menjadi dasar manajemen dan evaluasi kinerja orang  per orang.   

Kesimpulan: “jauh lebih baik Anda menyempurnakan jobdesc sebelum mengidentifikasi indikator kinerja,  namun ketidaksempurnaan jobdesc jangan menghalangi kebutuhan Anda yang mendesak untuk mengidentifikasi indikator kinerja” (dap)

4 Responses

  1. Menarik untuk di pelajari. Teruskan pak.

  2. Uraiannya lengkap dan menarik.
    Tolong diberikan contoh KPI untuk Finance Department dan KPI Individual for Finance Employee.

  3. Mantab!!!
    Saya sekarang jadi seorang “kuli” dimana semuanya masih tidak terstruktur rapi. Yang mengakibatkan jobdesc yang tidak jelas yang mengakibatkan kepusingan beruntun akibat benturan dan kesalah pahaman dan efeknyapun manajemen tidak objectif dalam menilai para “kuli”nya.

  4. BAGUS UNTUK DI PELAJARI PAK,,,TOLONG DI BERIKAN CONTOH KPI & PDCA UNTUK PERSONALIA & SDM, PEMASARAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: