EVERY MANAGER IS HR MANAGER

Darmin A. Pella

Perusahaan global player membutuhkan dukungan manajer berkualitas, yaitu manajer yang dapat mengoptimalkan produktifitas bawahannya, dengan berfokus memperbaiki segala problem yang timbul di tempat kerja melalui mekanisme coaching & counseling.   Melalui Coaching & Counseling manajer mengoptimalkan performa karyawan dan  mendapatkan bantuan dari atasan untuk mengatasi masalah kinerja  yang dihadapinya.

Coaching & counseling merupakan metode efektif untuk membuat karyawan dan perusahaan lepas sama dari masalah sekaligus meningkatkan produktifitas dan kompetensi.

Kompetensi coaching & counseling  diperlukan setiap atasan karena tidak ada tempat kerja yang 100% betul-betul memuaskan.  Artinya, masalah pasti ditemui, tinggal bagaimana mengelolanya.  Kompetensi Coaching & Counseling pada diri atasan, di tempat kerja, lahir sebagai kebutuhan.  Manajer yang menyadari perlunya melakukan coaching & counseling pada karyawannya  bertanya “Bagaimana caranya Saya melakukannya terhadap bawahan Saya?”. Di pihak lain, karyawan juga merasakan kebutuhan yang sangat dalam untuk mendapatkan mitra konseling dari atasan.  Ini dikarenakan, sesungguhnya, dalam menjalankan pekerjaan, atau mencapai target, karyawan pasti merasakan satu dua hambatan yang perlu dipecahkan dan untuk itu butuh bantuan atasan.

Coaching mengajarkan keterampilan teknis (equipment related) atau keterampilan managerial (soft skill). Keterampilan dan sikap untuk membantu “pekerja” (dalam hal ini karyawan) untuk mengelola kegiatan mereka sendiri dengan menggunakan keterampilan mereka sendiri. Dari pengertian ini dapat ditarik batasan bahwa manajer sebagai coach adalah the expert. Bukan hanya menunjukkan ABC tanpa pernah mencoba, tidak tahu bagaimana melakukannya.  Artinya, pusat dari keterampilan pada skill coaching ada pada diri manajer. Manajer bertindak mendemonstrasikan seluruh skills dan experience mereka agar dapat diidentifikasi oleh karyawannya.

Adapun counseling ialah sekumpulan teknik, keterampilan dan sikap untuk membantu klien (dalam hal ini karyawan) untuk mengelola permasalahan mereka sendiri dengan menggunakan sumber-sumber daya mereka sendiri. Dari pengertian ini dapat ditarik batasan bahwa manajer sebagai konselor bukanlah penyelamat, tetapi fasilitator. Bukan menolong tetapi memberikan bantuan sumber daya.  Artinya, pusat dari masalah dan penyelesaiannya ada pada karyawan. Manajer hanya bertindak merefleksikan diri dalam perasaan dan pikiran karyawan, dan berbekal pengalaman dan wawasan, setelah itu menantang karyawan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.  

Pada pokoknya, counseling difokuskan pada segala masalah menyangkut pekerjaan. Bila karyawan  memiliki istri dua dan bermasalah di pekerjaan layak untuk di-counseling. Bila karyawan terlibat narkoba dan bermasalah di pekerjaan layak  di-counseling.  Masalah pribadi atau keluarga bilamana mengganggu performa kerja juga layak dibahas dalam konseling. Bila manajer tidak dapat mengatasi masalah yang klinis, manajer dapat merekomendasikan karyawan ke konselor perusahaan

Manajer sebagai konselor bukanlah penyelamat, tetapi fasilitator. Tiga skill manajer dalam coaching & counseling meliputi skills mendengarkan (ketika menemukan masalah), skill mendefinisikan masalah (agar menemukan penyebab sebenarnya) dan skill memfasilitasi penemuan solusi. Tugas manajer ialah membantu mengoptimalkan sumber daya bagi bawahannya untuk menyelesaikan masalah atau mencapai targetnya. Kompetensi apa saja yang dibutuhkan dan bagaimana melakukan hal-hal tersebut dibahas dalam pelatihan ini.

Manajer menggunakan coaching untuk masalah kinerja berkaitan keterampilan / kompetensi teknik / pekerjaan. Manajer menggunakan counseling untuk masalah kinerja berkaitan masalah sikap, mental, kepribadian, attitude, dll

Sebagai ilustrasi, coaching ditujukan  untuk pemain basket yang “belum tahu bagaimana melempar bola yang bagus” sehingga bolanya luput masuk ke keranjang

Sementara counseling ditujukan untuk pemain basket yang “sudah tahu bagaimana melempar bola yang bagus namun belum bisa menghilangkan kerisauan anaknya yang akan dioperasi” sehingga bolanya pun luput masuk ke keranjang.  

Selain meningkatkan produktifitas, data hasil coaching & counseling juga merupakan sumber data yang sangat bermanfaat dalam rangka succession planning. Melalui konseling kita dapat mengetahui kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) konselee / karyawan. Data – data tersebut dapat direkam untuk digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam perencanaan promosi. Sejarah perkembangan kematangan karyawan dapat pula diketahui melalui ringkasan hasil konseling yang dikirim ke HRD.  Melalui coaching & counseling  kita dapat menjadikannya sebagai wahana untuk mengoptimalkan pengembangan diri dan performa karyawan.

 

Remember, every manager with subordinates actually is HR manager.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: