TALENT-BASED RECRUITMENT SYSTEM

Darmin A. Pella

images-wwwgadgetbbcom1Saya akan menceritakan sebuah fabel.  Pernah mendengar fabel tentang kura-kura dan kalajengking? 

Suatu kali, di pinggir sebuah sungai, seekor kalajengking hendak menyengat kura-kura.  Agar bisa selamat, kura-kura dengan segera menyembunyikan kepalanya. Ternyata sang kalajengking ini juga ingin menyeberang sebuah sungai, dan ia melihat peluang lain.  Ia melihat bahwa ketimbang menunggu menyengat kura-kura, mengapa tidak meminta untuk membantunya menyeberang sungai. Sebuah pertukaran yang ideal.  Kalajengking kemudian berkata pada kura-kura “baiklah, bagaimana kalau kamu bisa membantu saya menyeberang, saya tidak akan menyengatmu, apakah kamu tertarik?”. 

Berpikir sejenak dan masih khawatir atas resiko, kura-kura bertanya “Tetapi bagaimana bila tuan ingkar janji”. “Oh, Saya tentu tidak akan mengingkari janji, sebab bila saya mengingkari janji dan menyengatmu di tengah jalan, maka kita akan sama-sama mati.  Engkau akan keracunan dan Saya akan tenggelam ke dasar sungai”, kata kalajengking. 


Kura-kura percaya dengan janji ini. Ia kemudian menjulurkan kepalanya, memperbolehkan kalajengking naik ke punggungnya lalu kemudian masuk ke sungai perlahan-lahan untuk menyeberang.  Di tengah jalan, kalajengking yang tidak bisa menahan diri melihat kepala kura-kura di depan matanya kemudian menyengat kura-kura!  

Kura-kura mengerang kesakitan. Perlahan-lahan tenaganya melemah lalu tenggelam ke sungai membawa kalajengking bersamanya.  Kata-kata terakhir kura-kura hanyalah sebuah pertanyaan pada kalajengking.  “Mengapa Anda menyengat saya?  Anda berjanji tidak akan melakukannya!  “Maafkan saya”, kata kalajengking.  “Sudah bawaan saya untuk menyengat, sekali lagi maafkan saya, itu sudah menjadi sifat saya…..”.


Fabel di atas saya dengarkan dari Gloria de Guzman, Phd, seorang professor lecturer di Asian Institute Management. 

Bukan saja Gloria yang bercerita menarik hati, tetapi inti fabel yang diceritakan Gloria pun berkesan. Fabel di atas menunjukkan satu filosofi sederhana.  Setiap manusia, dan demikian halnya seorang calon karyawan, dilahirkan dengan kecenderungan tertentu.  Bekerja pada tempat yang mengoptimalkan kesesuaian kecenderungan dasar seorang karyawan baru dan kebutuhan tempat kerjanya akan membuat seorang karyawan baru akan produktif dan puas serta perusahaan senang. 

Tiga langkah dapat dilakukan untuk mengoperasionalkan filosofi fabel di atas.  Menariknya, tiga langkah ini dapat diterapkan dalam proses perekrutan untuk sistem dan industri mana saja.  Pertama, pahami karakteristik posisi atau jabatan yang akan diisi.  Kedua, pahami kecenderungan dasar tipikal manusia yang akan bahagia dan produktif bekerja di situ.  Ketiga, cari dan rekrutlah manusia yang memiliki kecenderungan dasar (bawaan, genetik, gawan bayi) sesuai dengan karakteristik pekerjaan tersebut. 

Seorang pengusaha bisnis premium call menelepon saya.  Ia ingin merekrut calon karyawan wanita yang akan menjadi frontliner bisnisnya.  “Saya sedang dalam proses seleksi nih, bagaimana saya memilih calon karyawan?”, tanyanya.  Busines model premium call, seperti Anda tahu, ialah “menyediakan teman bicara yang menyenangkan selama mungkin”.  Saya membuatnya sederhana dengan menjawab:  mungkin membantu mencari calon karyawan wanita yang dari sananya periang, suka ngobrol, suka tersenyum, ramah, dan suka menyenangkan orang lain (plus suara seksi, tambahnya). 

Anda mungkin setuju, orang yang dari sananya periang, suka ngobrol, suka tersenyum, ramah, suka menyenangkan orang lain, ketika berbicara di telepon akan lebih menarik.  Keriangan inilah yang akan membuat customer premium call betah berlama-lama lalu meningkatkan kinerja bisnisnya.  Dengan model yang sama, bila kita bergerak di bidang jasa, lantas menyadari bahwa pelayanan pelanggan adalah salah satu strategi terpenting, mengapa tidak sejak awal membawa masuk karyawan yang sudah memiliki sifat dasar senang ketika berhasil melayani orang.  Bila strategi kita berorientasi pada kualitas, mengapa tidak membawa masuk seseorang yang memang bahagia mengurusi hal-hal detail dan mencintai kesempurnaan. 

Saya percaya pelatihan mengubah orang.  Perusahaan bisa menggelontorkan banyak investasi pada pelatihan untuk mengubah karyawan.  Tetapi bila perusahaan berhasil merekrut karyawan yang telah memiliki sifat dasar sama dengan visi, misi, strategi, model bisnis, atau karakteristik yang dibutuhkan, maka pekerjaan rumah berikutnya jauh lebih mudah. 

Inilah filosofi talent-based recruitment system yang perlu kita operasionalisasikan dalam model perekrutan di perusahaan kita.  Dan untuk itu, kita bisa menggunakan banyak metode untuk mengefektifkan sistem seleksi di perusahaan kita, sampai kita dapat mengklaim resep perekrutan yang efektif.  Sebuah resep perekrutan yang secara efektif “berhasil menemukan kandidat seperti yang dicari perusahaan kita” (dap)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: