TOLERANSI KESADARAN MASALAH

Darmin A. Pella

images-spidermanpsychpurdueeduSeorang wasit berlari. Dikejar kerumunan pemain yang tidak setuju dengan keputusannya.  Terkena jotosan, ia jatuh, dan ditendang oleh pemain lain yang beringas.  Menonton hal demikian, muncul sikap:  “biasa itu, tidak bisa diatasi, wasitnya juga sih”.

Sebuah perempatan senantiasa macet.  Mendatangi seorang polisi, lalu seorang driver,  muncul komentar: “dari  dulu juga begitu. Pada susah dibilangin sih. Sudah nggak bisa diapa-apain tuh..”   

Metromini trayek S64 jurusan Pasar Minggu – Cililitan ringsek tertabrak KRL Pakuan Ekspress. Metromini itu nekat menerobos celah pintu perlintasan. Akibat insiden tersebut, enam penumpang metromini meninggal. Menanggapi berita ini, muncul sikap: “Ah itu biasa. Hanya enam orang. Sudah tidak bisa di atasi lagi. Diapain juga, nanti akan kejadian lagi”.

“92% pilkada berlangsung dengan aman”. Itulah bunyi petikan iklan di televisi dan media lainnya. Iklan ini menyiratkan suatu kebanggaan. Sayangnya, sekaligus contoh toleransi kesadaran masalah yang longgar. Bila pesannya kita balik, akan berbunyi: “8% pilkada di daerah berlangsung rusuh (dan menimbulkan konflik kepanjangan serta merugikan rakyat)”. Ini juga berarti sekitar 32 pilkada berakhir dengan saling gugat, saling ancam, saling menyerang, dan hasilnya: macetnya pembangunan.  Sekarang kita telah melihatnya sebagai sebuah masalah. Pergeseran toleransi kesadaran masalah membuat kita melihat segala sesuatu dengan hati-hati dan tangungjawab.

Banyak persoalan tidak selesai bukan karena persoalannya rumit untuk dipecahkan. Tetapi batas toleransi kita untuk menganggapnya sebagai masalah terlalu tinggi. Masalah sudah dianggap bukan masalah.

Inilah sikap kurang peduli masalah, warisan masa lalu yang layak kita kikis dari diri sendiri. Inilah akar masalah dari segudang masalah di depan bangsa kita, di dalam perusahaan kita, dan didalam keluarga kita kini.

Toleransi kesadaran masalah adalah bagaimana kita mensikapi suatu kejadian yang menyimpang dari standar di sekitar kita. Penyimpangan dari standar ini terjadi karena kita membandingkan apa yang seharusnya terjadi (what should be happen) dan apa yang sesungguhnya terjadi (what actually happen). Semakin jauh kesenjangan antara kedua hal tersebut semakin kita menganggapnya sebagai sebuah masalah.

Orang dengan toleransi kesadaran masalah rendah akan melihat Tsunami di Aceh sebagai masalah, tetapi   melihat situasi Merapi yang “baru” menunjukkan tanda-tanda akan meletus belum sebagai masalah. Ketika ia meletus, memakan korban jiwa, barulah ia dikategorikan masalah.

Orang dengan kesadaran masalah tinggi melihat potensi masalah jauh sebelum masalah terjadi.  Orang dengan kesadaran masalah rendah, tetap belum melihat masalah, bahkan setelah masalah telah terjadi.     

Toleransi kesadaran masalah adalah perangkat psikologis dan manajemen untuk maju. Masalahnya, persepsi setiap orang maupun institusi, pejabat dan publik, pemerintah dan rakyat, pengusaha dan pelanggannya bisa berbeda. Apa yang dianggap amat bermasalah bagi publik, mungkin dianggap tidak begitu masalah buat pejabat terkait. Sikap mental ini menjadi akar situasi bangsa yang berjalan ditempat.
Masalah ketika kecil mudah di atasi. Tetapi membiarkannya membuat lama kelamaan masalah menjadi sangat besar dan kini memangsa kita. Sesungguhnya kita menghadapi masalah yang sama dengan yang dihadapi negara-negara maju saat ini. Masalah yang kita hadapi 50 tahun lalu juga dihadapi oleh negara tetangga kita. Bedanya, toleransi kita terhadap masalah terlalu lunak. Kecepatan kita menuju bangsa berdaulat dan maju pun lebih lambat karenanya.

Semua negara menghadapi masalah korupsi. Negara lain menganggap korupsi sebagai hal luar biasa. Pejabat yang terindikasi saja sudah mengundurkan diri. Masalah dengan tipe dan besaran sama persis terjadi di Indonesia. Ketika kita meninggikan toleransi kesadaran masalah terhadap korupsi, yang terjadi, kita bangga dan pamer ketika korupsi. Kita bahkan mengajak atasan, rekan dan bawahan dan seluruh unit kerja kita untuk mensistemkan korupsi (systematic corruption). Terlalu toleran pada masalah berakibat fatal. Ia menumpulkan kesadaran, semangat dan kecekatan kita mengatasi masalah.

Sebuah masalah yang sudah dianggap bukan masalah akan menjadi masalah yang berlangsung bertahun-tahun. Lama-lama menjadi masalah kronis (chronic problem). Sejurus kemudian ia akan menjadi budaya. Ini dapat terjadi dalam suatu rumah tangga, perusahaan atau negara. Semakin suatu problem menjadi kronis, dibutuhkan tindakan bedah yang lebih radikal pula.

Kita membutuhkan keseimbangan. Orang dengan toleransi masalah terlalu rendah juga akan menganggap semua adalah masalah. Lupa akan besaran masalah. Hal-hal kecil pun terlalu diurusi. Bingung pada prioritas penting yang benar-benar dibutuhkan. Prioritas mengurusi pasal-pasal perburuhan misalnya layak diperbandingkan dengan memburu pelaku ekonomi biaya tinggi. Memberantas korupsi dalam tubuh sendiri mungkin lebih perlu menelan energi institusi publik ketimbang mengkritik pihak lain.

Masalah politik, ekonomi, moral, budaya, dan lain-lain sesungguhnya adalah masalah manajemen. Ini kemudian membuat semua pejabat publik layak belajar manajemen pada para profesional di institusi bisnis yang berhasil mengatasi masalahnya.

Dengan menerapkan six sigma atau balanced scorecard, misalnya para profesional di institusi bisnis  berhasil menekan kejadian menyimpang dari standar yang seharusnya hanya satu per sejuta kesempatan. Penting kemudian setiap pejabat publik mulai menggunakan key performance indicator (KPI) yang jelas dalam kinerjanya. Suatu indikator kinerja untuk mengimplementasikan 3M: What Matter Get Measured and Managed (Apa yang benar-benar penting, diukur dan dikelola). Indikator ini tentu saja jauh dari sekedar menggunakan KPI apakah anggaran tahun ini telah habis atau tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: