SALES SEBAGAI LIFESTYLE

Darmin A. Pella

images-wwwthehelpinghandlecomTerjadi metamorfosa peran untuk menjadi seorang top sales melalui empat tahapan yakni pertama, sales sebagai kartu nama. Kedua, sales sebagai profesi. Ketiga, sales sebagai customer service. Keempat, sales sebagai gaya hidup.

Profesi penjualan adalah sebuah profesi menarik buat saya. Mengapa demikian? Pertama, meski kartu nama kita tak berbunyi “Senior Sales Executive”, Saya memandang bahwa setiap kita sebetulnya adalah penjual. Kalau tidak berjualan produk atau jasa, kita menjual konsep atau ide.

Apapun profesi dan jabatan kita, kita membutuhkan keterampilan menjual untuk sukses dalam bidang karir kita masing-masing. Kita menjual konsep dan ide kepada bawahan, rekan, atasan, manajemen, bahkan pasangan kita.

Profesi penjualan juga sebuah profesi yang menarik karena alasan kedua. Saya menemukan sebuah penelitian mengungkapkan, dari berbagai profesi, sales adalah salah satu bidang karir yang paling cepat mengantar seseorang sampai ke posisi puncak. Urutan kedua adalah karir dari bidang finance.

Alasan ketiga saya tertarik pada profesi sales ialah dalam suatu bisnis, profesi penjualan adalah gerbong yang menarik aktifitas gerbong lainnya. Aktifitas bidang produksi, pelayanan pelanggan, keuangan, IT, sumber daya manusia dan lain-lain akan bergelora bila ia dipicu oleh keberhasilan bagian penjualan creating the demand. Dapatkah sebuah bisnis eksis tanpa pelanggan?

Berdasarkan pengamatan saya, terjadi metamorfosa peran untuk menjadi seorang top sales melalui empat tahapan yakni pertama, sales sebagai kartu nama.  Kedua, sales sebagai profesi.  Ketiga, sales sebagai customer service.  Keempat, sales sebagai gaya hidup.  

Sales sebagai kartu nama adalah titik awal posisi seorang wiraniaga pemula.  Pada fase ini, seperti telah saya tuliskan sebelumnya, profesi wiraniaga  masih dianggap sebagai profesi singgahan sebelum mendapatkan “pekerjaan yang sebenarnya”.

Berhasil melalui tahap ini membuat seorang wiraniaga memasuki tahap Sales sebagai Profesi.  Pada tahap ini wiraniaga menerima profesi penjualan sebagai profesi yang akan ditekuninya.  A profession is an occupation requiring  training and specialised study.  Wiraniaga yang menerima sales sebagai profesi kemudian menyadari kekuatan kelemahannya, dan lebih terbuka untuk menyerap segala informasi guna membangun kompetensi sebagai seorang sales professional.

Bila seorang wiraniaga berhasil membangun kecintaan dan menikmati profesinya sebagai wiraniaga, peran selanjutnya ia akan masuk ke fase perubahan peran dari sales menjadi customer service.  Seorang top sales pernah berkata pada saya bahwa ia hanya membutuhkan satu tahun menjadi sales. Sales dalam arti praktis, ke sana kemari mencari prospek, membangun daftar kontak, dan membuat pelanggan baru.  Setelah satu tahun berlalu, ia telah mendapatkan customer base.  Dan selanjutnya customer base tersebut lah yang ‘bekerja’ untuk dirinya, menemukan pelanggan baru.

Ibu Lili yang langganan top sales di Toyota Group sehingga dinobatkan di kancah nasional sebagai Mrs. Toyota, dikenal memiliki customer database yang sangat bagus dan rapi.  Secara berkala ia akan menyambangi customer-nya melalui telepon.  Mengirimkan kartu ucapan selamat ulang tahun, perkawinan, dan kelahiran anak pelanggan. Ibu Lili mengeluarkan expense pribadi untuk itu semua.  Tetapi hasilnya tiga-empat kali lebih besar.  Karena pelanggan strategik yang berhasil digaet dan kemudian puas dengan pelayanannya sangat potensial juga mereferensikan lagi ke orang lain.  Pengelolaan database & relationship terbukti mengantar Ibu Lili mencapai top sales berkali-kali. Fenomena ini juga saya amati pada sales yang kemudian menikmati fast track terus meniti karir sampai menjadi Area Manager.  

Dalam jangka pendek, seorang wiraniaga memang berprofesi sebagai sales.  Dalam arti bagian terbesar pekerjaannya adalah mencari prospek, menginformasikan produk dan layanan.  Sebagian besar waktu di awal karir wiraniaga akan dihabiskan untuk mengajar customer-prospect untuk mencoba dan lalu memakai produk.  Tetapi pada titik tertentu, wiraniaga tak perlu melakukan prospecting seumur hidup. Pada titik tertentu, basis data pelanggan  yang dimiliki wiraniaga cukup membuatnya melakukan penjualan melalui pola repurchace and referral. Pelanggan membeli untuk kedua kalinya, melakuan pembelian ulang, atau mereferensikan ke pelanggan baru.  Pada kondisi inilah  saya kira profesi sales bertransformasi menjadi customer service

Pada titik tertinggi kemudian, saya melihat sales adalah sebuah gaya hidup. Sales yang sukses sulit membedakan kapan ia menjadi sales dan tidak menjadi sales.  Di siang hari ia adalah sales, di malam hari ia pun sales.  Bangun pagi sampai tidur, ia adalah sales.  Ketika sales telah menjadi gaya hidup, Anda bahkan tak dapat membuat perbedaan antara profesi Anda dan personifikasi personal Anda.  Ketika sales telah menjadi gaya hidup, saya cermati, Anda tidak tahu lagi kapan Anda menjadi sales dan tidak. Anda tidak bisa membedakan lagi kapan Anda menjual dan tidak.  Keduanya menyatu.  Wiraniaga sukses mungkin tak lagi melihat perbedaan tegas antara kehidupan pribadi dan kehidupan wiraniaga.  Aktifitas penjualan merupakan bagian dari kehidupan pribadi dan kehidupan pribadi adalah kehidupan sebagai wiraniaga.  Keduanya melebur sehingga saya menyebutnya sales bukan lagi sebagai profesi, tetapi sebagai gaya hidup (sales as life style)

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: