MENINGKATKAN EFEKTIFITAS PELATIHAN ANDA

Darmin A. Pella

images-members-ebaycomSetiap kali bertemu dengan para peserta pelatihan, acapkali Saya iseng secara konsisten menanyakan: “apa manfaat pelatihan ini untuk Anda?”. Jawabannya selalu ialah “pelatihan ini bermanfaat”. Artinya, hampir semua pelatihan dianggap memberikan manfaat perluasan wawasan bagi peserta. Tetapi untuk pertanyaan berikutnya: “apakah isi pelatihan ini dapat Anda terapkan ke tempat kerja?.

Pada pertanyaan ini, jawabannya mulai muncul kesulitan. Akan muncul beberapa tanggapan seperti:

“Ya pelatihan ini bermanfaat, penting, tetapi terlalu kompleksk untuk diterapkan dalam situasi kantor yang Saya hadapi yang sesungguhnya”
“Ya, ini bermanfaat, tetapi bagaimana penerapannya di lapangan nanti sungguh Saya masih belum kebayang”
“Ya, pelatihan ini bagus. Tetapi agak sulit untuk bisa konsisten menjalankannya. Kan Saya sangat sibuk”.

Dibalik komentar-komentar seperti ini, Saya menyimpulkan satu hal yang Saya rumuskan dalam pernyataan berikut: “Hampir seluruh pelatihan memberi manfaat perluasan wawasan pada peserta, demikian juga hampir seluruh pelatihan gagal membenamkan kompetensi yang melekat dan terpakai untuk kurun waktu yang lama bagi peserta pelatihan”.

Mengapa hal ini terjadi, dan bagaimana memperbaikinya? Bukankah belanja pelatihan tidak bisa dibilang kecil? Apakah pelatihan memang hanya cocok untuk meningkatkan wawasan, sementara untuk membentuk kompetensi bukanlah urusan para trainer?” . Pertanyaan-pertanyaan inilah yang perlu direnungkan oleh setiap pembuat modul, pendesain pelatihan, trainer, pihak HRD atau personalia yang menyelenggarakan pelatihan atau menyewa konsultan untuk melaksanakan pelatihan in-house, perusahaan yang mengirimkan karyawannya untuk suatu pelatihan, dan para peserta pelatihan itu sendiri.

 

Berikut ialah  kiat-kiat praktis penulis yang berangkat dari pengalaman aktual. Beberapa tip ini mudah-mudahan membantu Anda mendesain  pelatihan yang efektif.

 

Jangan Terpaku pada Textbook  

Apa yang Anda lakukan saat mulai menulis modul suatu pelatihan? Apa yang Anda rencanakan untuk Anda lakukan saat mulai mendesain suatu pelatihan? Beberapa hal ini adalah hal yang paling sering Saya lihat.
Pertama, mengumpulkan sebanyak mungkin ‘textbook’ yang berkaitan. Kedua, membaca sebanyak mungkin ‘textbook’ tersebut. Ketiga, memasukkan sebanyak mungkin bahan yang relevan dari ;textbook’ ke dalam materi pelatihan. Ini tidak keliru, tetapi, pelatihan bukan hanya masalah textbook.  Tetapi soal masalah apa yang dihadapi peserta, situasi pekerjaan apa yang dihadapinya, skill apa yang penting untuk mengatasi masalah tersebut, bagaimana memastkan agar etelah pelatihan masalah tersebut tidak muncul lagi di pekerjaan peserta.  Inilah isu yang lebih tinggi daripada seberapa banyak isi textbook yang telah dimasukkan ke materi.  

 

Pelatihan harus benar-benar mengajarkan kompetensi

Pengamatan Saya atas materi-materi pelatihan dan penyelenggaraannya saat ini lebih berfokus pada materi. Para desainer pelatihan berfokus pada memberikan sebanyak mungkin ‘insight’, sebanyak mungkin ‘wisdom’, dan sebanyak mungkin ‘theory’, dan melupakan ‘skills apa yang dibawa pulang oleh para peserta pelatihan. Nah, bagamana meyakinkan bahwa pelatihan Anda benar-benar meningkatkan kompetensi?

Bagaimana meyakinkan bahwa pelatihan kita  benar-benar mengajarkan kompetensi?

 

Pelatihan harus menyediakan praktek atau simulasi 

Apapun pelatihan kita, tantangannya ialah bagaimana menyediakan praktek nyata bagi peserta di dalam kelas agar merasakan betul penerapan dari pendekatan yang diajarkan.  Dengan praktek dalam kelas, maka textbook, wisdom, insight, menghunjam ke skills

Keterampilanlah yang mengubah manusia.  Baik itu keterampilan menggunakan bibir atau menggunakan tangan. Kita bekerja dengan berbicara, atau dengan memanipulasi benda dengan tangan kita.   

 

Memastikan peserta pelatihan menerapkannya setelah pelatihan

Apapun pelatihan kita, tantangannya ialah bagaimana membuat peserta kita bisa menerapkan pelatihan yang kita ajarkan setelah pelatihan.  Kita mesti memastikan dapat membantu peserta dengan bahan-bahan praktis sehingga sedemikian rupa ia memiliki panduan penerapan ketika kembali ke tempat kerja nanti.  Kita juga wajib memastikan bahwa keterampilan yang diajarkan dapat ‘match’ dengan sistim manajemen yang sudah terimplementasi di tempat kerja para peserta pelatihan.

 

Membuat materi gampang dicerna dan diterapkan
Setelah semua tantangan di atas dapat kita jawab dengan jelas dan tuntas, tantangan  berikutnya ialah, bagaimana membuat materi menjadi begitu sederhana? Begitu sederhana sehingga mudah dicerna, gampang diingat, tidak sulit untuk diterapkan dan kompetensinya melekat untuk jangka waktu lama?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: