PELAJARAN MANAJEMEN DARI KEMENANGAN OBAMA (1)

Darmin A. Pella

images-wwwreadytobeatcomIf there is anyone out there who doubts that America is a place where anything is possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight is your answer,” Obama declared.

Young and old, rich and poor, Democrat and Republican, black, white, Hispanic, Asian, Native American, gay, straight, disabled and not disabled, Americans have sent a message to the world that we have never been just a collection of red states and blue states,” he said. “We have been and always will be the United States of America.

“It’s been a long time coming, but tonight, because of what we did on this day, in this election, at this defining moment, change has come to America,” 

Itulah petikan pidato  Obama menyambut kemenangannya sebagai Presiden Terpilih ke-44 Amerika, Presiden Pertama keturunan Afrika-Amerika,  36 tahun setelah ia meninggalkan masa kanak-kanaknya di Indonesia.       

Pemilu Amerika kali ini adalah salah satu proses pemilihan paling terbuka, demokratis, dan menarik untuk diikuti. Pelajaran manajemen apa yang dapat  kita petik dari kemenangan Obama?   

 

Differensiasikan Diri, Gunakan Blue Ocean Strategy

Obama membawa pembaharuan.  Memiliki kepribadian. Tidak terbawa isu-isu lama dari pesaingnya.  Selama kampanye, Obama membuka pasar mengenai ide, horison dan pemikiran baru, the uncharted territory.  Ketika ia bersaing dengan Hillary, ia tidak terbawa oleh isu yang dilontarkan Hillary.  Ketika bersaing dengan McCain ia selalu menemukan wilayah pertarungan baru  yang membuat McCain seperti “ketinggalan jaman”.  

Obama menggunakan  pendekatan blue ocean strategy untuk mengalahkan persaingan.  Ketika semua calon berfokus pada dana korporat dan pengusaha kaya, Obama berfokus pada penggalangan dana perseorangan. Ketika tim kampanye mencari dana lewat pendekatan tradisional, ia menggunakan  jalur internet.  Ketika pesaingnya memandang sebelah mata media komunitas maya, ia malah membuktikan bagaimana facebook, multiply, friendster, dan semacamnya jadi sarana efektif mendulang pendukung, pendonor, dan sukarelawan.

Ketika berorasi, ia selalu membuka kemungkinan-kemungkinan tak terbayangkan.  Sekaligus menekankannya bahwa kita, semua, seluruh rakyat Amerika, bisa dan sanggup mencapainya, “Yes We Can“. 

 

Berbicaralah dari Hati ke Hati dengan Pemilih, Menulislah Buku 

Buku adalah sarana menjangkau pemikiran pribadi setiap insan. Dengan buku, Obama berbicara secara langsung, dari hati ke hati dengan para pembacanya.  

obama-wwwsuntimescom

Dengan buku pertamanya, Dreams from My Father, Obama menjelaskan latar kehidupannya yang unik. Ketika menerbitkan buku yang berkisah tentang kisahnya yang ganjil, ia memfokuskan pada mimpi seorang anak imigran Asia-Afrika untuk membuka cakrawala berpikir semua pilih di Amerika, bahwa “bermimpi, di negeri adalah sesuatu yang mungkin”.  

Di buku ini, Obama berusaha menemukan dirinya sendiri, identitasnya, hubungan dengan keluarganya, khususnya ayahnya. Penemuan identitas diri ini penting untuk menjadi fondasi dan menegaskan identitas dirinya di masa depan. Melalui buku ini, Obama sekaligus mulai memfokuskan pemikiran pembaca yang ingin mengenali dirinya pada isu-isu mengenai rasisme, identitas dan komunitas.

Melalui buku keduanya,  The Audacity of Hope, Obama mengelaborasi  pikiran pembaca mengenai tema-tema yang diprioritaskannya  di Democratic National Convention. Di buku ini ia membagi pandangan pensonalnya, keyakinannya, nilai-nilainya, dan visinya mengenai perlunya membangun politik yang terhubung dengan harapan dan masalah nyata masyarakat.

Sementara dalam buku Change We Can Believe In: Barack Obama’s Plan to Renew America’s Promise ,  Obama memfokuskan pada rasa lapar seluruh rakyat Amerika akan perubahan.  Setelah kegagalan kebijakan dan politik  Washington makin kentara, Obama mendetailkan rencana bagaimana membawa Amerika maju ke depan.  Bagaimana Amerika meredefinisikan kembali perannya di dunia.  Bagaimana Amerika meraih kembali Amerika  yang bersatu dan menyatukan.   Di buku ini Obama menuliskan dengan gamblang ide-idenya memperbaiki ekonomi, pemikirannya memperkuat golongan menengah, semangatnya memperkuat dukungan layanan kesehatan publik, antusiasmenya mencapai independensi energi bagi Amerika, dan dorongannya untuk membuat Amerika menjadi lebih aman dan nyaman ditinggali.  

Tiga buku membuka dengam gamblang siapa dirinya, dari mana asalnya, apa kegelisahannya, pemikirannya, idenya, antusiasmenya, alirannya, rencananya.  Anda tidak memilih ‘kucing dalam karung’ , bacalah buku Saya, dan percaya mimpi Anda, kita bisa meraihnya bersama, seolah Obama ingin menegaskan.  Ya, kita memilih pemimpin dengan pantas ketika  kita tahu isinya luar dalam.  

 

Pemimpin Visioner, The Visionary Leader

Tidak pelak lagi, Obama mengeksekusi dengan baik salah satu tugas utama yang wajib dijalankan seorang pemimpin di organisasi manapun: menjadi pemimpin yang memberikan visi masa depan.  Di manapun Anda, apakah sebagai pemimpin organisasi bisnis, pemimpin komunitas, atau pemimpin negara, seorang pemimpin wajib menyediakan satu gambaran visioner masa depan yang membangkitkan hasrat hidup pengikutnya. 

Satu visi yang membangkitkan antuasiasme.

“If there is anyone out there who doubts that America is a place where anything is possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight is your answer,” Obama declared.

Young and old, rich and poor, Democrat and Republican, black, white, Hispanic, Asian, Native American, gay, straight, disabled and not disabled, Americans have sent a message to the world that we have never been just a collection of red states and blue states,” he said. “We have been and always will be the United States of America.

“It’s been a long time coming, but tonight, because of what we did on this day, in this election, at this defining moment, change has come to America,”.

Itulah petikan visi masa depan Obama yang dikemukakannya dengan antusias dan penuh penghayatan. Ia percaya betul pada visinya.  Dan pelan-pelan pusaran keyakinannya membentuk gumpalan pengikut antusias di seantero negara bagian.   

 

Disiplin Eksekusi Kampanye, Nemawashi ke Akar Rumput

Semua orang  mengakui bahwa kampanye Obama dieksekusi dengan sepenuh hati.  “No one has quite ever seen a campaign so flawlessly executed,” kata mantan CEO General Electric dan Management Guru, Jack Welch.   Dalam berkampanye, Obama selalu turun ke jalan, isunya pun selalu berakar pada kebutuhan nyata masyarakat. 

Tidak mengherankan, Obama berhasil mengalahkan McCain,   52 vs 46 persen. Dua pertiga Electoral College pun berada dalam genggamannya. 349 electoral votes dimenangkannya,  sementara hanya 173 untuk McCain.  Artinya, tidak hanya menang sebagai Presiden, ia pun mendapatkan mayoritas dukungan dari Kongress, peristiwa mana terjadi 15 tahun yang lalu. 

Dari ayah Kenya, dan Ibu Kansas, Obama memiliki kepekaan pada isu-isu antar ras, isu antar golongan, isu diskriminasi, isu perempuan, isu orang muda, isu orang terpinggirkan, dan isu-isu mengakar rumput lainnya.  Karena kegigihannya sebagai pelayan sosial, keberanian membicarakan permasalahan yang sebenarnya, ia menyentuh hati semua pemilihnya, yang bila dikumpulkan menjadi basis dukungan suara yang kuat.  

Dengan indikator kinerja jumlah isu kampanye yang menyentuh isu nyata masyarakatnya, Obama   berhasil memenangkan mutlak suara pemilih Afrika-Amerika, suara laki dan perempuan minoritas, dan pemilih Latin.  Di tingkat pemilih muda, ia memenangkan 65% suara dari semua suku bangsa, pemilih yang berusia 30 tahun atau lebih muda.  

Sebegitu kuatnya eksekusi kampanye Obama, sampai pemilu kali ini berhasil meningkatkan persentasejumlah orang yang mau menjadi pemilih (sebelumnya banyak golput).  Ia bisa menyamai rekor seratus tahun lalu, tahun 1908, di mana  dicapai partisipasi pemilih 90 persen di Virginia dan  Colorado. Serta sampai 80 persen di negara bagian utama seperti Ohio, California, Texas, Virginia, Missouri dan  Maryland.

bersambung …..

One Response

  1. Pak Darmin, Yth.

    Ini saya ada buku menarik: Obama, Inc. : Pelajaran Bisnis ala Kampanye Obama. Ada di gramedia…. semoga bisa menambah wacana kesuksesan Obama sebagai pelajaran manajemen bagi kita semua…trimakasih…

    Apa yang bisa dipelajari oleh para pebisnis dari kesuksesan Barack Obama dalam pemilu presiden Amerika? Melalui Barack, Inc., Barry Libert dan Rick Faulk menjawabnya dengan paparan berbagai pelajaran berharga yang bisa dipetik dari strategi Obama, sekaligus menyarankan agar perusahaan-perusahaan menggunakan pendekatan yang sama pada marketing plan mereka. Setidaknya, itulah yang ingin dikatakan Barry Libert dan Rick Faulk, chairman dan CEO Mzingga, penyedia perangkat lunak solusi jejaring sosial bagi perusahaan-perusahaan di seluruh dunia untuk menciptakan komunitas online yang berfungsi sebagai kegiatan pemasaran, customer support, dan edukasi pasar.

    Buku ini meyakini bahwa kepeloporan politik Obama telah membentuk sebuah standar baru yang lebih cerdas bagi kalangan bisnis yang ingin berhasil dalam dunia Web 2.0. Libert dan Faulk mengombinasikan hasil observasi mereka sendiri dengan hasil liputan berbagai kelompok media sehingga menghasilkan ulasan lengkap mengenai kampanye yang dramatis itu. Mereka melakukan wawancara dengan para pendukung Obama, mengumpulkan sejumlah laporan dari berbagai sumber, dan melakukan kajian terhadap blogosphere yang sebelumya tidak pernah membahas tema seputar pemilihan presiden secara meluas—artikel-artikel berisi gagasan dari mulai Politico hingga Twitter yang membuat tahun 2008 sebagai titik balik dalam politik. Tujuan utama buku ini adalah mencoba mengupas relevansi dari kampanye bersejarah itu bagi kalangan bisnis seantero dunia.

    Kisah perjalanan Obama untuk merebut kursi kepresidenan memang sangat dramatis—timnya terdiri dari orang-orang terbaik dan berdedikasi tinggi. Ia memikat puluhan ribu sukarelawan yang sebagian besar rela meninggalkan pekerjaan atau cuti kuliah untuk memperjuangkan kemenangannya. Ia juga berhasil menggalang dana yang jumlahnya sangat fantastis, berasal dari jutaan kontributor di seluruh dunia. Yang paling menarik adalah strategi kampanye Obama yang sangat cerdas, yaitu dengan memanfaatkan teknologi jejaring sosial. Inilah tema yang menjadi perhatian buku ini secara mendalam. Obama berhasil mengubah kampanye konvensional di 50 negara bagian hanya dengan sebuah komunitas online saja. Komunitas itu memberi inspirasi kepada warga Amerika untuk berpartisipasi pada sebuah gerakan, menyumbangkan kemampuan, waktu, dan uang mereka untuk mewujudkan kemenangan. Hasilnya, politik Amerika (bahkan dunia) tidak pernah seperti sebelumnya.

    Intisari buku ini bisa dikelompokkan ke dalam tiga bagian utama, yaitu Be Cool, Be Social, dan Be the Change. Bagian pertama, Be Cool, berbicara mengenai karakter Obama. Tenang, fokus, cerdas, dan tangguh. Ia adalah sosok teladan pemimpin sejati. Di bagian ini dikisahkan seluruh aspek yang melatarbelakangi kemampuannya tetap fokus pada John McCain meskipun nama Sarah Palin mencuat dan digandrungi media (hal. 22 -27). Be Cool adalah kemampuan untuk menjaga ekuilibrium, tetap fokus pada pokok masalah, dan membuka pikiran hingga sampai pada keputusan akhir.

    Seperti halnya yang dilakukan Obama, sikap tenang mutlak harus dimiliki oleh kaum pebisnis. Jika mereka tidak melakukannya, kemungkinan besar akan bernasib seperti Ted Turner, yang bersikap emosional sehingga ia dengan mudah dikelabuhi dan dijegal dari proses merger dengan Time Warner (hal. 18).

    Be Social secara jelas mengacu pada strategi yang digunakan tim kampanye Obama dalam memanfaatkan sarana jejaring sosial online untuk mendapatkan, menginformasikan, dan memotivasi target pasar. Dalam hal ini, pebisnis hendaknya juga menciptakan komunitas, dan teknologi jejaring sosial adalah sarana yang paling efektif untuk melakukannya. Di samping contoh strategi Obama, disajikan juga strategi serupa yang dipraktikkan prusahaan-perusahaan raksasa seperti Toyota, Coca-cola, dan Comcast.

    Dengan Be the Change, seluruh langkah bisnis kita harus merefleksikan perubahan. Bagian yang paling menginspirasi adalah respons Barack Obama menanggapi ’kotbah memojokkan’ yang dilakukan Pendeta Jeremiah Wright, Jr. Buku ini mengupas secara mendetail sikap Obama terhadap kotbah itu dan mengatakan bahwa kita sedang terjebak pada status quo ’rasialisme’ dan harus segera melakukan perubahan demi kehidupan yang lebih baik (hal 107-111). Di era teknologi online yang bisa mengancam model bisnis konservatif dan tekanan finansial yang sangat berat dewasa ini, para pebisnis harus segera melakukan perubahan.

    Namun demikian, melihat posisi Barry Libert dan Rick Faulk sebagai petinggi Mzingga, saya curiga mereka memiliki agenda terselubung untuk mendorong pemanfaatan jejaring sosial sebagai sarana marketing untuk kepentingan perusahaannya sendiri. Di samping itu buku ini juga tidak menguraikan jenis bisnis seperti apa yang akan mendapat keuntungan dari pendekatan marketing jejaring sosial online seperti ini.

    Secara umum, Barack, Inc. bermanfaat bagi para praktisi PR, marketing, CMO, pebisnis, dan fans berat Obama yang ingin menerapkan sarana Web 2.0 secara efektif. Selamat membaca.

    Antonius Hermawan Susilo
    Editor Publishing One

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: