PELATIHAN YANG MENUNJANG PENCAPAIAN IMPLEMENTASI KPI

Darmin A. Pella

images-wwwintuitive-recruitmentcouk1Di salah satu klien, setelah mulai menjalankan implementasi Transformasi Corporate Performance Management, seorang Direktur mendatangi Saya.  Ia berkata, “Di perusahaan, ada tiga kategori karyawan. Pertama, karyawan yang tahu masalah tapi tidak peduli.  Kedua, karyawan yang tahu masalah, peduli, tapi tidak tahu bagaimana menganalisis dan mengatasi masalah.  Ketiga, karyawan yang bahkan tidak tahu, tidak menyadari bahwa ada masalah”.  


Saya berkata padanya, “di mana-mana saya menemukan kenyataan bahwa otak karyawan kita (di Indonesia) sebenarnya sama.  Potensinya kurang lebih sama. Perbedaannya, di satu perusahaan,  potensi tersebut dikembangkan. Melalui pendidikan, pelatihan, assignment, improvement activities, coaching, counseling,  dan seterusnya.  Di perusahaan lain, potensi tersebut diabaikan”. 

Saya akhiri dengan menyatakan:  “Otak karyawan kita sama, asupan yang berbeda membuat berkembangnya berbeda.  Itulah sebabnya mengapa di satu perusahaan mengapa yang muncul adalah karyawan tipe keempat:  karyawan yang sudah tahu masalah, menyadarinya, menganalisisnya, mengetahui sebab masalahnya, membuat usulan perbaikannya, telah melaksanakannya, dan baru laporan ke atasannya untuk mendapatkan umpan balik lebih kaya dari atasannya. Untuk tujuan itulah saya berada di sini”.    

Saudara,

Setiap pelatihan memiliki silabus dan tujuan pengajaran yang berbeda-beda. Tetapi saya ingin mengambil satu benang merah yang mendasari tujuan fundamental mengapa sebuah pelatihan perlu dilaksanakan untuk menunjang tercapaianya implementasi KPI (Key Performance Indicator).

Tujuan pelatihan yang sebenarnya ialah membuat semua karyawan paham akan pentingnya bisnis.  Dan lalu mengerakkan karyawan bersama mencapai tujuan-tujuan bisnis tersebut.  Membuat karyawan melek bisnis berarti membuat karyawan paham, di posisi manapun ia berada, pada level apapun ia menjabat, dan fungsi apapun ia kerjakan selalu terkait dengan bottom line alias profit perusahaan.  Di manapun posisi karyawan, apakah ia berada di cost center, revenue centerprofit center atau investment center semuanya berpengaruh pada profit perusahaan (bottom line).  Karena profit adalah revenue minus cost.

Bila karyawan berada di cost center, fokus perhatian tentunya bagaimana menahan laju kenaikan biaya. Lebih baik lagi, bagaimana menurunkan biaya-biaya operasional, dengan tentu saja mempertahakan kualitas hasil yang telah dicapai.  Bagi karyawan yang ada di posisi  revenue center, pekerjaan rumahnya tentu bagaimana meningkatkan pendapatan perusahaan setinggi mungkin.  Sedangkan untuk pemegang jabatan pada posisi profit center, pertanyaannya tentu bagaimana ia mengelola pendapatan dana biaya sehingga bisa mendapatkan profit setinggi-tingginya.  Adapun bagi para karyawan di posisi investment center, bagaimana mengelola unit bisnis yang dipercayakan para investor, sedemikian sehingga memberikan imbal investasi(return on investment, on asset, on equity) yang baik.

Tetapi itu semua tidak bisa kita capai dengan mudah. Kita menghadapi beberapa tantangan utama dalam membuat pelatihan berhasil meningkatkan kinerja perusahaan.  But That’s Life….. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: