COACHING AND COUNSELING: UNLEASH THE POWER WITHIN EMPLOYEE

Darmin A. Pella

images-wwwgetentrepreneurialcom

Dalam sesi-sesi pelatihan, tidak jarang saya bertemu  peserta yang menyarankan agar atasannya mendapatkan pelatihan lebih dulu dengan materi yang sama.

“Materi ini bagus”, katanya, “Tapi saya memiliki atasan yang tidak kompeten, bisakah Anda memberi pelatihan padanya terlebih dahulu?”.  Kurang lebih demikian inti permintaan yang muncul, meskipun cara mengungkapkannya berbeda-beda. Tergantung kepribadian, gaya, tingkat permasalahan masing-masing.

Cerita ini menunjukkan satu hal: “pada beberapa situasi:  kita mengalami krisis kepemimpinan di perusahaan kita.  Seseorang yang menduduki jabatan formal sebagai pemimpin, di struktur organisasi command & control membawahi sejumlah manusia, ternyata bukanlah orang manusia yang kompeten mengemban amanah optimalisasi kinerja manusia-manusia perusahaan dalam rentang kendalinya”.

    

Tidak ada karyawan, atasan,  manajemen dan perusahaan yang dapat lepas sama sekali dari masalah.

Tidak adakaryawan, atasan,  manajemen dan perusahaan  yang 100% betul-betul memuaskan.

Namun  tidak ada masalah kinerja karyawan yang tidak dapat dikelola.

Untuk keperluan itulah maka Coaching & Counseling di tempat kerja lahir sebagai kebutuhan.

Kesadaran manajer yang berkualitas perlunya melakukan coaching & counseling sebagai bagian inheren leadership skills pada karyawannya terbit dalam bentuk lontaran pertanyaan “Bagaimana caranya Saya melakukannya terhadap bawahan Saya?”. Di pihak lain, karyawan juga merasakan kebutuhan yang sangat dalam untuk mendapatkan mitra konseling dari atasan.

Ini dikarenakan, sesungguhnya, dalam menjalankan pekerjaan, atau mencapai target, karyawan pasti merasakan satu dua hambatan yang perlu dipecahkan dan untuk itu butuh bantuan atasan.

Coaching & Counseling (C&C) menjembatani kedua kebutuhan ini. Melalui C&C manajer mengoptimalkan performa karyawan. Melalui C&C karyawan mendapatkan jalan untuk mendapatkan bantuan dari semua segi yang diperlukan.

Coaching untuk masalah kinerja berkaitan keterampilan / kompetensi teknik / pekerjaan. Counseling untuk masalah kinerja berkaitan masalah sikap, mental, kepribadian, attitude, dll

Coaching untuk pemain basket yang “belum tahu bagaimana melempar bola yang bagus” sehingga bolanya luput masuk ke keranjang

Counseling untuk pemain basket yang “sudah tahu bagaimana melempar bola yang bagus namun belum bisa menghilangkan kerisauan anaknya yang akan dioperasi” sehingga bolanya pun luput masuk ke keranjang

Kalau dikaitkan ke matrik populer manajemen performa (empat tipe karyawan, dilihat dari gradasi kinerja dan potensinya)

Tipe pertama, kinerja tinggi potensi rendah (potential employee).
Tipe kedua, kinerja rendah potensi rendah (deadwood)
Tipe ketiga, kinerja rendah potensi tinggi (problem employee).

Keempat, kinerja tinggi potensi tinggi (star).
Coaching mengajarkan keterampilan teknis (equipment related) atau keterampilan managerial (soft skill). Keterampilan dan sikap untuk membantu “pekerja” (dalam hal ini karyawan) untuk mengelola kegiatan mereka sendiri dengan menggunakan keterampilan mereka sendiri. Dari pengertian ini dapat ditarik batasan bahwa manajer sebagai coach adalah the expert. Bukan hanya menunjukkan ABC tanpa pernah mencoba, tidak tahu bagaimana melakukannya.

Artinya, pusat dari keterampilan pada skill coaching ada pada diri manajer. Manajer bertindak mendemonstrasikan seluruh skills dan experience mereka agar dapat diidentifikasi oleh karyawannya.

Counseling ialah sekumpulan teknik, keterampilan dan sikap untuk membantu klien (dalam hal ini karyawan) untuk mengelola permasalahan mereka sendiri dengan menggunakan sumber-sumber daya mereka sendiri. Dari pengertian ini dapat ditarik batasan bahwa manajer sebagai konselor bukanlah penyelamat, tetapi fasilitator. Bukan menolong tetapi memberikan bantuan sumber daya.
Artinya, pusat dari masalah dan penyelesaiannya ada pada karyawan. Manajer hanya bertindak merefleksikan diri dalam perasaan dan pikiran karyawan, dan berbekal pengalaman dan wawasan, setelah itu menantang karyawan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Pada pokoknya, Counseling pun difokuskan pada segala masalah menyangkut pekerjaan. Bila ia memiliki istri dua dan bermasalah di pekerjaan layakkah di Counseling? Bila ia narkoba dan tidak bermasalah di pekerjaan layakkah di Counseling?

C & C fokusnya masalah-masalah di tempat kerja. Namun demikian, masalah pribadi atau keluarga masalah bilamana mengganggu performa kerja juga layak dibahas dalam konseling. Bila manajer tidak dapat mengatasi masalah yang klinis, manajer dapat merekomendasikan karyawan ke konselor perusahaan

C & C adalah sumber data yang sangat bermanfaat dalam rangka succession planning. Melalui C & C kita dapat mengetahui kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) konselee/kayawan. C & C dapat mengoptimalkan pengembangan diri dan performa karyawan.

Remember, every manager with subordinates actually is HR manager.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: