PAY FOR PERFORMANCE: TYPE OF INCENTIVES

Darmin A. Pella

images-careerservicesucmercededu

 

Suatu kali, seorang karyawan berkata pada Saya.  “Money is not Everything.  But Everything Need Money”.

Sebuah buku bertutur pada saya:  “Radio paling menarik bagi orang dewasa adalah WII FM.  What’s in It For Me?  Apa manfaatnya bagiku?  Dengan terminologi bekerja di kantor, apa manfaat alias benefit saya bekerja di kantor ini?  Jawaban yang langsung berkelebat adalah: Money” 

Meski masuk kategori hygiene factor yang tidak akan pernah memuaskan kata Herzberg,  salah satu faktor  yang memotivasi  tingkat kepuasan karyawan di perusahaan adalah seberapa canggih sistem penggajian di perusahaan tersebut dalam mengelola motivasi karyawannya.  Seberapa bagus sistem penggajian perusahaan dalam menggerakkan dorongan optimalisasi produktifitas karyawannya.  

Gaji, penghasilan, bonus, insentif, adalah faktor utama, meskipun bukan satu-satunya faktor dalam memotivasi karyawan. Faktor lain seperti challenge, self actualization, praise, working environment perlu dikelola untuk memastikan pegawai memiliki long-term commitment bersumber dari sebentuk intrinsic motivation dalam bekerja.   

Bagaimana memberikan insentif pada karyawan agar terkait dengan kinerjanya?

Equity principles of motivation menyatakan bahwa pegawai akan selalu membandingkan pengetahuan, keterampilan waktu, usaha, lembur, dll dengan imbalan  yang mereka peroleh.  

Sudah saatnya kita memutus sejarah penilaian berbasis lama waktu kerja, senioritas, atau urut kacang. Seniority based pay terbukti tidak cocok diterapkan di negara Indonesia yang mewarisi budaya feodalisme.

Sudah saatnya kita menerapkan performance based pay. Kitaharus memastikan bahwa semakin besar persentase pendapatan karyawan kita dipengaruhi kontribusi, nilai, sumbangan kinerja yang dihasilkan bagi perusahaan.

 Kita perlu memperbesar persentase variable-pay sebagai bagian dari strategi perbaikan  reward management system di perusahaan kita.   Sistem insentif, dalam berbagai bentuk tatacara reward administration-nya, terbukti lebih mendorong produktivitas kerja yang tinggi. Reward administration ini dapat menggunakan berbagai macam pola. 

Pertama, individual-based incentives.  Kita bisa memberikan tipe insentif berbasis hasil kerja langsung individu seperti  piece rate incentives, straight piece work, atau production bonus system. 

Kedua, merit incentives.  Kita bisa memberikan tipe insentif berbasis kinerja unit bisnis di level lebih tinggi seperti  team incentives, organizationwide incentives, gainsharing plans, atau profit-sharing plans.

Ketiga, Ownership plan. Kita bisa memberikan insentif sesuai dengan kinerja saham perusahaan melalui pola employee stock option program

Keempat, executive pay.  Kita bisa mengaitkan insentif kepada jajaran eksekutif sesuai dengan peningkatan economic value added atau stock value perusahan.

Bila kita telah memperbaiki sistem penggajian kita, baik dari segi fixed-pay maupun variable-pay, pekerjaan rumah kita berikutnya adalah menyelesaikan keluhan betapa performance evaluation yang telah berjalan sifatnya masih subyektif.  Subyektivitas penilaian dapat diperangi dengan cara penilaian bukan oleh atasan saja, penilaian dilakukan 360 degree appraisal,  atau oleh appraisal committee.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: