2009: MANAGEMENT LESSON FROM INDONESIAN ELECTION

Darmin A. Pella

images-kfkkompascomMisteri pemilu 2009 mulai terkuak.   Melalui quick count,  Susilo Bambang Yudhoyono unggul, disusul Megawati, dan Jusuf Kalla.  Setelah hiruk-pikuk  masalah koalisi pelangi, kampanye di saat kegiatan resmi, netralitas lembaga survei,  hasil survei kontroversial, persuasi opini satu putaran, DPT bermasalah, soliditas mesin partai, debat-santun (a contradictio in terminis), sejumlah pelajaran bisa kita tarik dari Pemilihan Presiden kali ini.

Pelajaran apa saja yang bisa kita peroleh melongok proses dan hasil pemilu 2009 ini?

1. Pemilu Indonesia bukan lah proses rasional (Indonesian Election not a rasional process)

Sebagaimana jargon bahwa tersedia pasar kompetitif sempurna (perfect competition market), yang menyatakan bahwa pada situasi  tersebut harga konsumen berada pada titik terbaik, karena seluruh pemain di industri memiliki informasi yang sama, tetapi sekaligus megakui bahwa tidak ada pasar sedemikian rupa dalam dunia nyata,  it’s only an utopia, demikianlah pemilu di Indonesia.

Bagi tim kampanye, pendukung, pengamat, dan kalangan intelektual yang berpikir rasional, menganggap bahwa proses pemilihan kandidat presiden dilakukan secara rasional, melalui pertimbangan  masak-masak, melalui analisa program, cost-benefit  analysis dan  pathway untuk Indonesia lebih maju, kenyataannya premis ini tidak terbukti. Pemasaran kandidat di pemilihan umum Indonesia haruslah menganggap bahwa prosesnya tidak linier, tidak rasional, dan tidak logis.

2. Pemilih Memperhatikan Citra, bukan Program (Vote  for image, not program)

Para pemilih Indonesia lebih memperhatikan citra, bukan program.  Posisi Presiden dipandang sebagai sebuah citra, bukan pekerjaan.  Citra adalah gambaran, representasi, kemiripan, atau imitasi dari suatu benda. Sebuah citra mengandung informasi tentang obyek yang direpresentasikan. Citra dapat dikelompokkan menjadi citra tampak dan citra tak tampak.  Pemilih memutuskan ‘nyontreng‘  kandidat yang paling mampu menunjukkan pencitraan perilaku tampak (overt behavior), yang dibentuk terus-menerus melalui  optik, layar monitor, kertas, analog maupun digital, setelah melalui proses editing sistematis untuk memunculkan citra favorable.

Tim yang paling bekerja keras menarik simpati, membangun citra, lebih berhasil menambat hati pemilih, ketimbang tim yang bekerja keras menunjukkan program.  Ini disebabkan pemilih menentukan tanda check bukan pada siapa yang paling bagus programnya, paling tahu apa tindakan yang harus dilakukan keluar dari krisis , paling mampu bekerja keras, paling sanggup membawa Indonesia maju.  Tetapi pada pertanyaan siapa presiden yang citranya paling positif, tampil paling pas, dan paling mewakili citra presiden.  Hasil pemilihan 2009 mengkonfirmasi teori saya bahwa di Indonesia, we can not convince voters on what you want to do, but we can ask for simpathy from voters on who we are.

3.  Pendekatan pada Pemilih yang Berhasil melalui Otak Kanan, bukan Otak Kiri (Best Approach to Right Brain, Not Left Brain)

Sudah lama kita melihat perbedaan cara kerja otak kanan dan kiri dalam perilaku manusia. Ide-ide kreatif  ada di hemisfer kanan. Logika, analisa dan bicara ada di hemisfer kiri.  Dr Andrew Newberg &  Mark Waldman dalam Study Center of Spirituality and Mind menyebutkan ketika kita memperkenalkan sebuah gagasan baru ke dalam otak kita, maka akan terjadi kebingungan pada awalnya. Akan terasa tidak nyaman. Otak belum tentu menyukai gagasan baru, terutama jika gagasan itu bertentangan dengan keyakinan lama yang telah Anda pegang sejak lama.  Ketika sesuatu yang baru masuk, otak kiri memasuki mode waspada, amygdala  akan menganalisis apakah kondisinya aman atau bahaya.

Cara kerja otak kanan tidak terstruktur, dan cenderung tidak memikirkan hal-hal yang terlalu mendetail.  Iklan-iklan dengan lagu (Indomie), dengan kecepatan yang melenakan, iklan lain yang menyasar sub-level consciousness, dengan nada rendah, membangun citra kedekatan dengan wong cilik, masuk ke persepsi pemilih pada saat santai-relaks  (sedang menonton) menelusup ke otak kanan pemilih dengan lebih cepat, menjadi toxic dan berfungsi sebagai trigger pada saat pilihan perlangsung di kotak nyontreng.  Pemilihan Indonesia menunjukkan bahwaBest Approach to Right Brain, Not Left Brain.

Ada sejumlah management lesson yang lain,  seperti:

– Media Televisi adalah sarana communication channel yang paling  efektif menggamit wing voters.

– Jumlah belanja iklan merupakan dominant factors dalam mendulang simpati.

– Mesin partai politik bukan sarana paling ampuh dalam memperbanyak basis dukungan.

– Strategy good guy vs bad  guy merupakan metode efektif membangun citra.

– Bagian paling besar pemilih yang menentukan kemenangan suara justru pada pemilih yang tidak berpikir.

– Pertarungan sesungguhnya berada pada jarak terjauh dari kekuasaan.

Apa lesson learned Pemilu 2009 menurut Anda?


5 Responses

  1. pemilih yg mendasarkan pada visi, misi, program kerja capres-cawapres akan kritis menentukan pilihannya. mereka ini memilih capres-cawapres yg nggak salah, cuma sayangnya kalah.

  2. Tulisannya bagus.

    Mohon ijin, kalu boleh, saya mau share di facebook?

  3. Mungkin karena belum ada pelatihan tentang “bagaimana menterjemahkan dan menilai misi, visi, dan program kerja calon presiden”, sehingga sebagian rakyat Indonesia sementara ini hanya bisa menilai citra ?, pendapat saya, sampai saat ini memang sebagian bangsa Indonesia (khususnya di lingkungan pedesaan) masih dalam taraf menilai “figur” yang memiliki citra yang pas dengan masing-masing keyakinan individu, atau bisa jadi ada juga yang cenderung mengekor biar dibilang berpendapat sama dan tidak salah pilih.

  4. nice, but do you have empirical study that support your hyphotesis?. cause, according to my opinion you can’t judge that the election in our country based only a perifered assumptions, I’ve study the political psychology for recent year. There two main psychological characteristic that indonesian people have toward this president election. 1. rationale voters and 2. emotional voters. when they chose their leader, rationale voters tend focused on: Objective in determining they choices, look for softskills competency, based on proven track record, “concreate” result, fluid voters, relatively comes from higher educational background. meanwhile the emotional voters tend to subjective determined their choices, looks for Physical competency, based on “image, descent, son or daughter of, very solid voters.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: