THE SEVEN STEP CORPORATE PERFORMANCE MANAGEMENT TRANSFORMATION

Darmin A. Pella

Tujuh  Langkah  Transformasi  Manajemen Kinerja Korporasi

Setelah cukup banyak bertemu dengan eksekutif dari berbagai perusahaan, saya berharap tidak keliru bila menyimpulkan, salah satu isu dengan prioritas tertinggi yang menyita perhatian utama di benak eksekutif kita adalah masalah kinerja perusahaan yang dipimpinnya.

Luangkan waktu Anda berbicara dengan eksekutif perusahaan, dan Anda akan dapat segera mendapatkan perhatiannya bila itu berkaitan dengan metodologi peningkatan kinerja bisnis di perusahaannya.

Oleh karena Saya juga memiliki antusiasme yang sama dalam bidang tersebut, maka hampir sepanjang karir, saya membaca buku, jurnal, majalah, dan segala macam bahan terkait strategi dan manajemen kinerja.  Saya juga amat peka menyimak kasus-kasus bisnis luar dan dalam negeri di berbagai media bila itu berkaitan dengan pembahasan manajemen strategi dan kinerja.  Pembahasan kasus-kasus strategi dan kinerja perusahaan global di ruang-ruang pelatihan memberi pencerahan tersendiri.  Kesemua pemahaman tersebut kemudian ditantang oleh satu pertanyaan mendasar dan sederhana, ”adakah satu model sederhana yang dapat kita pakai secara cepat untuk memperbaiki eksekusi strategi perusahaan, dan mentransformasikan sistem manajemen kinerjanya untuk meningkatkan kinerja perusahaan?”

Saya beruntung mulai berkarir di perusahaan yang telah memiliki kematangan sistem manajemen untuk menjawab pertanyaan tersebut.  Toyota-Astra Motor, dan kemudian Astra International Tbk memberikan pembelajaran penting bagaimana mengelola visi menjadi aksi. Tetapi itu saja tidak cukup.

Setelah bertemu dengan banyak karyawan di perusahaan lain, Saya kemudian menyadari bahwa ada banyak perusahaan yang bahkan tidak tahu dari mana memulai perbaikan manajemen strategi, eksekusi strategi dan sistem manajemen kinerja korporasi di perusahaannya.

Cukup banyak diantara karyawan di perusahaan yang dapat menyadari ada sesuatu yang salah di perusahaannya. Di antara karyawan yang sadar masalah tersebut, tidak banyak yang memiliki kemampuan memformulasi dalam kerangka manajemen ilmiah dengan jelas apa penyebab masalah tersebut.  Dan semakin sedikit lagi yang dapat tahu solusi sistematis atas gejala awal permasalahan yang dirasakan tersebut.

Untuk membantu perusahaan tersebut, diperlukan satu model sistem manajemen kinerja yang sederhana, dan dapat diimplementasikan dengan cepat, dan dengan segera menghasilkan dampak perubahan perilaku dengan cepat.  Saya telah melihat bahwa intervensi yang terlalu lama memberikan dampak pada perilaku dan kinerja menimbulkan efek kelelahan pada pegawai.  Program yang bagus namun lama memberi hasil, hanya berupa janji konseptual, akan menghasilkan komentar  pegawai bahwa konsep tidak bekerja dengan baik.

Dalam rangka mencari model untuk mengubah sistem manajemen kinerja korporasi sebuah perusahaan, dari kondisi tanpa sistem sama sekali menjadi kondisi berbudaya kinerja tinggi (high performing culture) tersebutlah, Saya bergulat dengan berbagai pemikiran dan penelitian aksi.

Setelah menemukan sebuah model, mengimplementasikannya beberapa tahun, dan mendapatkan respon positif langsung dari pelaku bisnis di berbagai perusahaan, dengan hati-hati, saya kemudian menyusun kumpulan tulisan pemikiran mengenai model transformasi tersebut secara sistematis untuk kemudian menjadi buku ini.

Buku ini ditulis dengan tujuan menjawab pertanyaan-pertanyaan utama terkait masalah pengembangan sistem manajemen kinerja perusahaan.

Beberapa pertanyaan audit terpenting yang perlu diajukan kepada perusahaan terkait sistem manajemen kinerjanya, dapat dirumuskan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Mampukah Manajemen Kinerja Perusahaan kita benar-benar menurunkan biaya dan meningkatkan pendapatan?
  • Apakah pengelolaan pikiran, sikap mental dan aktifitas karyawan di dalam perusahaan sudah bergerak searah?
  • Apakah perilaku karyawan sudah sejalan visi dan misi perusahaan?
  • Apakah para karyawan memiliki business sense dan sense of entrepreneurship yang baik?
  • Dapatkah kita mendesain dan mengimplementasikan suatu sistem manajemen kinerja yang mampu mendorong setiap karyawan mengeluarkan potensi terbaik guna meningkatkan kinerja perusahaan?
  • Dapatkah perusahaan kita memiliki suatu sistem yang menjamin perusahaan memiliki metodologi menghemat ratusan dan milyaran rupiah dari penghematan biaya operasional perusahaan?
  • Bagaimana sistem manajemen di perusahaan kita dapat mengikuti jejak perusahaan lain yang terbukti telah menghemat puluhan bahkan ratusan juta biaya-biaya pengadaan, utilitas, transportasi,  peralatan, konsumsi, telepon, alat tulis kantor, dan lain-lain?

Pertanyaan-pertanyaan di atas muncul dari keyakinan pribadi saya bahwa kinerja sebuah perusahaan sesungguhnya harus dikelola dengan baik agar sistem manajemen kinerja yang diterapkan benar-benar mampu untuk menurunkan biaya dan meningkatkan pendapatan (increase revenue, decrease cost) sepanjang waktu.

Pertanyaan-pertanyaan di atas melatarbelakangi pentingnya menerapkan Tujuh Langkah Transformasi Manajemen Kinerja (The Seven Step of Corporate Performance Management) yang sering disebut 7S-CPM, sebagaimana dibahas dalam buku ini.

Manajemen kinerja adalah suatu isu yang erat kaitannya dengan fenomena assymetric information. Informasi asimetrik menggambarkan telah terjadinya perbedaan informasi, harapan, hasrat, dan kepentingan antara para pemegang saham (shareholders) di satu sisi dan para karyawan (dan pimpinan karyawan) di sisi lain.  Di satu sisi, sebagai pengusaha, apapun bidang usahanya, pemegang saham akan selalu memperhatikan bottom line.  Apakah itu net profit, ROI, ROE, ROA, atau leverage ratio lainnya.  Profit adalah revenue minus all cost. Atau penghasilan residual setelah semua faktor dalam proses produksi terbayarkan.  Profit merupakan ukuran penting keberhasilan perusahaan secara konsisten karena menggambarkan nilai perusahaan (determine firm value) serta mencerminkan kemampuan perusahaan untuk terus eksis dalam jangka panjang  (long-term ability to exist).

Profit merupakan signal yang cukup baik bagi investor untuk terus melanjutkan bisnisnya.  Tanpa profit yang cukup, investor akan pergi atau bahkan sang entrepreneur menutup bisnisnya.  Ini bukan sesuatu yang dikehendaki oleh semua pihak, bukan.  Jadi dengan premis ini, manajer sebagai pengelola suatu bisnis semestinya berusaha mengelola profit  setinggi-tingginya bagi perusahaan. 

Tetapi kenyataannya di sisi lain,  selain memburu profit, tindakan para manajer yang mengelola bisnis tidaklah selalu sejalan dengan vested interest pihak investor, pemegang saham, dan dewan direksi yang mewakilinya.  Para manajer yang bukan pemilik usaha, tidak merasa menanam modal, dapat tergerak untuk memikirkan dirinya sendiri terlebih dahulu.  Hal alamiah pada diri manajer ialah memikirkan equity ratio antara input dan output dalam pekerjaannya.  Jadi selain berkonsentrasi pada output pekerjaan, manajer dapat lebih tertarik mencermati berapa kompensasi yang ia peroleh, fasilitas apa saja yang didapatkan, dan fancy stufff lainnya.  Tentu saja semua itu mengarah pada peningkatan kesejahteraan pribadi dan keluarga.  Informasi asimetrik, senyatanya, di dunia bisnis manapun terjadi antara pengusaha dan pengelolanya.

Kondisi di atas menimbulkan perbedaan persepsi dan berpotensi menciptakan konflik perilaku manajerial. Menjembatani kondisi konflik kepentingan ini sebagai principal-agent problem, diperlukan konsep sistim kontrol manajemen (management control system).  Pertanyaannya kemudian, bagaimana membuat sistim kontrol manajemen  -atau dalam dunia manajemen lebih jamak disebut sebagai fungsi performance management- mampu menunaikan tugasnya memenuhi kebutuhan semua pihak.

Buku ini disusun untuk memunculkan sistem manajemen yang memastikan seluruh karyawan bergerak kesatu arah.  Buku ini dibuat untuk membantu setiap pegawai di perusahaan  mengerjakan prioritas pekerjaan yang benar-benar dibutuhkan perusahaan. Buku ini disusun dalam rangka membangkitkan semangat perubahan di perusahaan Anda.

Dengan mengimplementasikan Tujuh Langkah Transformasi Manajemen Kinerja kita berharap  perusahaan Anda mempraktekkan disiplin para pemimpin pasar (market leader).  Saya telah melihat bagaimana implementasi Tujuh Langkah Transformasi Manajemen Kinerja berhasil mendorong seluruh karyawan terus membuat kegiatan perbaikan (continuous improvement).

DAFTAR ISI

 

Pengantar

Bukan Strategi, Tetapi Eksekusi

Tujuh Langkah yang Mengubah Perusahaan

#1 : Menemukan Kembali Misi dan Visi yang Membakar Semangat – Reinventing Mission Statement

#2 : Mengidentifikasi Corporate Scorecard – Define Corporate Scorecard

#3 : Menetapkan Indikator Kinerja Berbasis Posisi – Define Mapping KPI Based On Position

#4 : Memperjelas Deskripsi KPI dengan Target Menantang – Clarifying The KPI Description with Stretching Target

#5 : Memastikan Munculnya Improvement Action Plan – Make Sure Every KPI has Improvement Action Plans

#6 : Mengimplementasikan Penilaian Kinerja Berbasis KPI dan Kompetensi – Set Up KPI & Competence Based Performance Appraisal

#7 : Menegakkan Siklus PDCA berbasis KPI – Implement Improvement Progress Review Cycle

Testimoni Keberhasilan Tujuh Langkah Transformasi Manajemen Kinerja

Pilar Keberhasilan Implementasi Tujuh Langkah Transformasi Manajemen Kinerja

Toyota: The Power of HR

Membangun Sinergi Menuju Transformasi

Membangun Kompetensi Inti, Syarat Utama Keberhasilan Transformasi

Mengelola Kebutuhan terhadap Transformasi Manajemen Kinerja

Testimoni

“Buku ini sangat bagus untuk dibaca. Isinya sangat praktis, memberikan pedoman dasar serta langkah-langkah memperbaiki performa perusahaan, karena penulis mengerti baik teori maupun pengalaman mengaplikasikan dalam operasi perusahaan“

Johny Darmawan, President Director, PT Toyota-Astra Motor

”Buku ini secara sederhana dan sistematis memberi masukan yang sangat berguna bagi sebuah korporasi untuk bisa sukses mencapai tujuannya.  “

Johana Jonatan,  Director of Strategic Planning & Production Engineering, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia.

”7 Step Corporate Performance Management adalah sistim manajemen yang sangat efektif untuk meningkatkan kinerja, produktivitas dan efisiensi dari segala sisi”.

Fatimah Kalla,  Direktur Utama PT Hadji Kalla

”Dengan implementasi Tujuh Langkah Transformasi Manajemen Kinerja kami mendapatkan penyegaran dan pencerahan manajemen, hingga ke level yang sangat rinci, tetapi justru sangat aplikatif”

Anna Haryadi, Manajer Divisi SDM, PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk

Its really a good book.   Para CEO wajib membaca buku ini. Kata kuncinya:  Masalah kita bukanlah Strategi, Tapi bagaimana mengeksekusi strategi”.

Maydin Sipayung, Managing Director PT.Coalindo Energy, Indonesia Coal Index

“Buku ini dapat menjadi referensi bagi pemimpin pemerintahan yang sedang atau akan melaksanakan program mereformasi birokrasi”

Harry Hartoyo, Direktur Ekstensifikasi dan Penilaian, Ditjen Pajak, Depkeu

”Saya merasakan sesuatu yang jarang kita temukan dibuku lain. Membahas bagaimana mensinkronkan antara kepentingan karyawan dan shareholder perusahaan  yang lebih sering berseberangan”

Sri Hartono, Marketing Director, PT. Meiji Indonesia

”Memberi kita alternatif baru manajemen kinerja korporasi. Sangat layak untuk menjadi prioritas utama pengambil keputusan puncak”

Bambang Aria Wisena, Direktur PT. Bakrie Sumatera Plantations

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: