ATTITUDE TOWARD PROBLEM, SIKAP TERHADAP MASALAH

Darmin A. Pella

Bukalah koran, majalah, televisi, tabloid, media sosial, apa saja.  Ikutilah seminar, pelatihan, sarasehan, talkshow, apa saja.  Satu yang akan kita temui bersama: masalah.  Masalah negara. Masalah perusahaan. Masalah lembaga publik. Masalah organisasi. Masalah institusi pendidikan.

Begitu bangun tidur, pada napas pertama, kita sudah disergap masalah.  Jadi masalah bukan untuk dihindari, tetapi dihadapi.  Masalahnya (lagi-lagi masalah), saya melihat bahwa sikap terhadap masalah juga sebuah masalah.  Sikap terhadap masalah ini merupakan salah satu pangkal kenapa ada masalah yang membaik. Kenapa ada yang tambah buruk.  Karena itu, di tulisan ini saya akan menghidangkan pencerahan mengenai level-level sikap karyawan terhadap masalah.  Sikap seseorang (pada posisi apapun ia berada), menurut saya, setidaknya, bila disederhanakan, terdiri dari lima level.

Sikap karyawan pada level Pertama, adalah “ia merasa tidak ada masalah (di sekelilingnya)”.  Inilah sikap paling buruk terhadap masalah  yang mungkin dimiliki seseorang. Ketika ditanya di tempat kerjanya: “adakah masalah?”.  Ia menyatakan “Nggak ada tuh. Semua baik-baik saja. Everything is OK”. 

Merasa tidak ada masalah bisa disebabkan  tidak tahu ada masalah. Bisa karena tidak sadar ada masalah. Bisa karena tidak peduli ada masalah. Seorang polisi di perempatan jalan berdiri santai menatap kesemrawutan lalulintas di depan pelupuknya.  Silent majority berlidah kelu pada problem di kampung halamannya.  Pemilih golput melupakan tanggal pemilihan dan memilih bertamasya. Seorang karyawan bisa tenang, santai dan diam melihat AC menyala sia-sia, lokasi tong berbahaya, lantai licin, kabel listrik terbuka, keran air rusak dan bocor, invoice belum lengkap, (silakan isi sendiri apa saja contohnya), lantas berdiam diri. Hidup seperti biasa. Seolah tidak ada masalah apa-apa.

Sikap inilah yang membuat problem tidak selesai. Problem memburuk. Problem terus berulang tahun.  Kalau seorang karyawan berkata “sejak 15 tahun lalu saya gabung di perusahaan ini problem itu sudah ada”.  Berarti, problem tersebut telah berulang tahun 15 kali.  Inginkah Anda memiliki karyawan seperti ini?

Bila memiliki karyawan seperti ini, ada baiknya perdengarkan kisah berikut. Seorang supervisor bekerja di shift 3 (malam hari) di suatu pabrik. Di pagi hari, manajer atasannya mendatangi.  “Apakah ada masalah tadi malam, selama Anda bertugas shift 3?”.  Supervisor menjawab: “tidak ada masalah Pak, semua beres”.  Esoknya kejadian berulang persis sama.  Lusanya, jawabannya sama lagi.  Ketika hari ketiga jawabannya masih sama, manajer atasannya kemudian berkata: “Kalau terus-menerus tidak ada masalah menurut Anda, sekarang saya katakan, Andalah masalah saya”.

Ya, seorang supervisor yang bekerja dan tidak melihat ada masalah di pekerjaan adalah supervisor bermasalah.  Bagaimana mungkin, di tengah persaingan begitu ketat, ada karyawan sama sekali tidak melihat masalah yang menuntut perbaikan di lingkungan kerjanya?   Bagaimana mungkin di tengah kondisi persaingan antar  negara era hyperspeed ini, seorang pejabat publik bisa santai. Merasa tidak ada masalah. Kalaupun ada, “Ah, itu kan masalah kecil. Dibesar-besarkan saja”.

Sikap karyawan terhadap masalah di level kedua, adalah karyawan yang melihat ada masalah, tapi tidak tahu apa sebabnya.

Sikap karyawan terhadap masalah di level kedua, adalah “karyawan yang melihat ada masalah, tapi tidak tahu apa sebabnya”. Di level pertama, karyawan tidak tahu ada masalah. Di level kedua, sudah tahu ada masalah, meskipun demikian, ia belum bisa menganalisanya.

Ciri karyawan ini, bila ditanya, dapat menjawab apa masalah yang sedang dihadapi organisasi. Ia tahu ada masalah inefisiensi. Ia tahu ada masalah sikap, perilaku, karakter.  Ia tahu ada masalah kedisiplinan. Ia tahu ada kesalahan proses berulang. Ia bisa mencerna apa yang tidak beres di lingkungan kerja. Tetapi, sayangnya, ia tidak bisa menjelaskan mengapa itu terjadi. Ia tidak tahu apa sebabnya.  Orang ini cocok sebagai referensi problem whisleblower.

Keseharian, level kedua terlihat dalam perbincangan level permukaan. Obrolan masalah warung kopi, cafe, status facebook, seringkali berada pada level ini. Contoh mudah lain level kedua ini adalah Kompas Minggu, bagian karikatur.  Setiap minggu, halaman tsb menghadirkan daftar problem,  defect list dalam bermasyarakat dan bernegara. Dengan cara humor.  Kita menantinya. Kita menyukai whistleblower.  Karena ia menghadirkan kesamaan.  Rasa senasib. Sepenanggungan.

Kita membutuhkan karyawan level ini.  Kita perlu menghargai. Karena ia mengangkat ke permukaan apa yang perlu dibereskan.  Semakin berani ia mengangkat problem, semakin riak kejumudan air tenang ketidaksadaran masalah level pertama.  Tetapi masalah tidak kunjung membaik hanya dengan sikap level kedua.

Level ketiga, karyawan yang melihat ada masalah dan mampu menganalisisnya.  Ia mencari apa masalah yang telah terjadi. Ia melihat masalah. Lalu membuat daftar masalah.  Lalu mulai menggambar. Menggambarkan seluk-beluk masalah. Menghubungkan antar masalah.  Memilah mana gejala, mana penyebab. Memilah mana penyebab sampingan, mana penyebab utama. Ia bisa menganalisa causal-effect, pattern of problem, underlying issues, direct cause, root cause dan seterusnya.

Level ini tersentuh pendidikan analisis masalah.   Ketika ia disodori masalah, dipilah-pilihnya alat analisis yang sesuai.  Apakah berbasis data kuantitatif. Atau kualitatif.  Karyawan ini tidak reaktif. Ia yakin bahwa dibalik masalah, ada masalah yang lebih mendasar. Tugasnya mengupas kulit bawang masalah itu, sampai ketemu inti masalah sesungguhnya.  Kita membutuhkan karyawan ini.  Ia membantu kita memahami “duduk permasalahan sesungguhnya”. Ia membantu kita mengurai benang kusut kisruh masalah.

Masyarakat kita perlu dididik segera sampai level ini. Mulai anak kita. Sejak anak SD. Semua lapisan penghuni Indonesia. Di ceramah keagamaan perlu disisipkan. Karena dilevel inilah terjadi transformasi dari kepribadian reaktif menjadi proaktif. Dari emosionalitas merangkak ke rasionalitas.  Sejumlah konflik horisontal muncul karena sikap masyarakat berbenturan belum sampai ke level ini.

Kita membutuhkan karyawan pada level ini.  Karena inilah level awal cikal bakal tunas munculnya ide inovatif.  Tetapi, meski karyawan di level ini tahu menganalisis masalah, ia belum lulus level kemampuan membuat breakthrough untuk mengatasi masalah.  Ia belum mahir mengeluarkan solusi.  Ia jago problem analysis. Belum mumpuni problem solving.   Menganalisis masalah tidak sama dengan menyelesaikan masalah.

Understand problem is halfway to solve the problem. Bagian berikutnya mengulas separuh jalan itu.

Level keempat, karyawan yang tahu menganalisis masalah. Mampu menggunakan tools for problem analysis.  Mampu melakukan mind cracking untuk menghasilkan solusi.

Kita membutuhkan karyawan level ini. Karena ia menjadi mata batin. Mercusuar. Penerang jalan. Pemandu obor. Kemana kita harus melangkah. Tahapan apa yang harus dilalui. Belantara masalah tanpa panduan peta jalan, tak akan membuat kita keluar hutan dan tiba ke pantai impian.  Karyawan di level keempat, memberi kita 5W1H penyelesaian masalah. Bukankah itu baik?

Sikap terhadap masalah level keempat sangat membantu kita.  Sayangnya, solusi yang bagus tersebut, ia tidak sampai mengimplementasikannya.  Ia belum mencoba idenya.  Ia belum mengoperasionalkan konseptualnya.   Ia belum mencobanya karena tiada daya. Atau tak cukup kuasa. Mencoba sedikit lantas berhenti. Mencoba dan lalu puas dini. Atau memang  belum mencobanya saja.

Karyawan bisa membuat analisa dan solusi. Namun proposalnya tak pernah diajukan ke manajemen. Akhirnya mengendap di laci. Setiap tahun setelah itu, ia mengulang berkata “saya sudah pernah menganalisis dan membuat solusi atas masalah itu sejak X tahun lalu”.  Tiga tahun seorang seseorang menganalisis bidang usaha yang sesuai. Akhirnya ketemu yang paling pas differensiasinya. Namun ia tak pernah membuka warung usaha.  Masalah transportasi Jakarta, in my humble opinion, berada pada level ini. Telah dilibatkan pakar transportasi. Telah dilakukan benchmarking manca negara. Sarasehan. Telah digelar rencana-rencana. Telah hadir maket. Simulasi. Analog dan digital. Tapi waktu berlalu hasil nihil karena proses mind cracking implementasi rencana dan strategi urung terjadi.

Kualitas eksekusi strategi, tema penelitian disertasi penulis, mengarah ke pencarian pencerahan atas permasalahan level keempat ini.

Level kelima, karyawan yang tahu masalah, tahu analisa masalah, bisa menemukan breakthrough solusi, dan telah melakukan tindakan untuk menghentikan ulang tahun masalah.

Karyawan di level kelima ini selain mampu melakukan perenungan, kontemplasi, untuk menemukan solusi, juga sudah masuk ke level action. Karyawan pada level ini bersikap aktif.  Bekerja. Melakukan tindakan perbaikan.  Menyambung proses yang patah.  Menjahit keretakan. Mengganti kerusakan. Menutup kecerobohan.

Pribadi level kelima menghasilkan penemuan. Thomas Alfa Edison mencoba ribuan bahan untuk membuat pijar lampu, sesuatu yang telah menjadi hal teramat biasa saat ini. Ia mengejar kuda, untuk mencabut surainya, guna mengetes dapatkah ia membuatnya menjadi alat penerang bola lampu buatannya.  Seluruh atlet paralimpic adalah contoh gagah keagungan level lima ini.  Setiap insan street-entrepreneur merupakan contoh sederhana manusia level kelima ini.

Kita membutuhkan karyawan level kelima ini.  Ia action-oriented. Ia tidak hanya menganalisa, tapi juga membuat solusi. Ia tidak hanya piawai membuat solusi, namun juga terjun mengaplikasikannya.  Tindakan aplikasinya ada yang keliru. Itu wajar.  Yang keliru menjadi trial and error. Pahalanya 1.

Tindakannya ada juga yang berhasil.  Yang berhasil menyelesaikan masalah. Ini menjadi bukti kapabilitas problem solving.  Pahalanya 2. Pribadi level kelima mungkin sedikit bicara banyak bekerja, atau banyak bicara dan banyak bekerja.  Pribadi level kelima membuat perubahan di lingkungannya.

Baiklah. Setelah mengulas lima level sikap terhadap masalah, perlu diringkas agar mudah ingat. Mudah-mudahan. Saya akan memberi istilah-istilah manajemen untuk level-level sikap terhadap masalah pada seorang karyawan seperti telah dibahas sebelumnya.

Level 1:   Problem Blind Person, Problem Ignorant :  tidak tahu, tidak sadar, tidak peduli ada masalah.  

Level 2:  Problem Whistleblower, tahu masalah, bisa mengangkatnya ke permukaan

Level 3:  Problem Analyser, paham masalah, membuat orang menyadarinya, lalu menunjukkan analisis duduk permasalahannya

Level 4:  Solution Generator, paham masalah, membuat orang memperhatikannya, mengeksplorasi causal-effect, menghasilkan breakthrough solusi penyelesaiannya

Level 5:  Problem Solver,  paham masalah, menyadari root cause-nya, melahirkan breakthrough, telah melakukan trial and error, action-oriented, menyelesaikan masalah.

Kata “karyawan” dalam tulisan ini hanyalah istilah.  Kata karyawan dapat diganti dengan kata manajer, supervisor, management trainee, helper, office boy, secretary,  pemilik usaha, direktur, general manager, pasangan, anak, anggota DPR, pejabat publik, driver, siapa saja. Lima level sikap terhadap masalah ini ada di semua kepribadian berdasar kompleksitas masalah di dunianya masing-masing.

Sedikit tambahan. Level 1 sikap terhadap masalah adalah the problem blind person. Adakah yang lebih buruk dari problem blind person? Ada. Yaitu problem maker, trouble maker.

Alih-alih diam terhadap masalah, problem maker menambah daftar masalah Memperbanyak defect list. Ketika orang mencoba mengatasi masalah, ia membuat kegaduhan. Menimbulkan rusuh. Mencipta riak. Menabuh genderang kerusakan. Problem blind diam melihat kebakaran.  Problem maker menambahkan bensin ke asset yang belum atau sedang terbakar.  OMG (dap).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: