RESPONSIBLE CONDUCT OF RESEARCH

Darmin A. Pella

Senin, 10 September 2012, SEAMEO BIOTROP menyelenggarakan Workshop on Responsible Conduct Research. Pembicara adalah Shobha Ramanand PhD, Academic Research Specialist, Michigan State University, East Lansing, Michigan. Kedatangan Shobha Ramanand ke Indonesia, disponsori oleh US National Science Foundation.

Workshop dibuka Direktur SEAMEO BIOTROP, Dr. Bambang Purwantara. MC dipandu Aslih Srilillah.  Materi presentasi yang dibawakan diambil dari bahan The Graduate School, Michigan State University. Diperkaya oleh materi dari Singapore Statement on Research Integrity.

Research adalah proses investigasi formal dalam rangka berkontribusi pada pengembangan pengetahuan. Penelitian harus dilaksanakan dengan memenuhi kaidah-kaidah Responsible Conduct Research (RCR).   Lalu apa itu Resposible Conduct Research?

Responsible Conduct Research (RCR) secara umum didefinisikan sebagai kepatuhan yang mendalam dan jujur pada standar etika, disiplin dan keuangan dalam mempromosikan,  mendesain, melakukan evaluasi dan melaporkan penelitian dalam setiap bidang pengetahuan.   RCR berdampak pada Research Integrity. Research integrity sangat menentukan nilai dan manfaat suatu penelitian (the value and benefit of research are vitally dependent on the integrity of research). 

Setiap kali kita melakukan penelitian, senantiasa terdapat tanggung jawab profesional dan prinsip-prinsip yang mendasar yang harus dipatuhi untuk meningkatkan integritas penelitian.  Prinsip penelitian berintegritas dibedakan menjadi 4 prinsip yakni kejujuran (honesty), tanggungjawab (accountability), keramahan profesional dan keadilan (professional courtesy and fairness) dalam bekerja bersama orang lain, serta melakukan pengelolaan penelitian yang baik dalam melakukan penelitian atas nama pihak lain (good stewardship of research on behalf of others).

Bila diaplikasikan lebih jauh, ada tiga aktifitas yang harus dijalankan ketika menjalankan aktifitas kreatif dan penelitian. Pertama, bekerja sungguh-sunguh (do good work).  Kedua, menghargai orang lain (show respect for others). Ketiga, tunjukkan tanggung jawab sosial (exercise social responsibility).

Bekerja sungguh-sungguh ditunjukkan dengan semangat dan antusiasme. Memperhatikan kualitas.  Peduli pada dampak hasil pekerjaan kita pada orang lain atau proses berikutnya. Berusaha menjadi ahli. Bekerjasama dengan pakar/ahli lain untuk menyempurnakan hasil kerja. Perhatian pada detail dalam setiap proses promosi, desain, analisis, interpretasi, dan penulisan hasil penelitian.

Menghargai orang lain ditunjukkan dengan kolegialitas (collegiality).  Menghargai dan mempertimbangkan setiap ide. Menghargai properti intelektual. Adil dalam mengakui hasil kerja dan karyawan seseorang atau suatu pihak.  Bila penelitian dilakukan pada mahluk lain, sangat memperhatikan kesehatan, keselamatan dan kenyamanan.  Selain itu juga menjunjung tinggi peraturan dan kebijakan institusi, profesional dan pemerintah yang terkait.

Ini kisah nyata.  Seorang dosen memberikan tugas kepada ratusan mahasiswa. Di era komputer, usaha mencontek tugas jauh lebih mudah. Maka 12 dari ratusan mahasiswa mengumpulkan tugas yang persis sama. Dari isi topik, tema, paragraf, kalimat sampai ke titik dan komanya. Dari format penulisan, cover sampai penutup. Yang berbeda hanya nama dan nomor mahasiswa.  Dipikirnya dosen tidak akan mengetahui hal ini. Apa yang terjadi? Hukuman apa yang pantas untuknya?

Dalam melakukan penelitian berlaku prinsip universal yang diungkap Mahatma Gandhi. “There are no difference between means and ends. The ends don’t justify the means”.  Dalam melakukan penelitian, kita perlu memperhatikan input yang baik, proses yang baik, dan hasil yang baik.  Untuk mencapai hasil yang baik, kita tidak bisa menggunakan segala cara.  Bila inputnya data yang tidak benar, diproses dengan cara yang tidak benar, bisa tetap menghasilkan kesimpulan yang benar.  Telah umum diketahui bahwa pembimbing, penguji, pun tidak memiliki waktu memeriksa hasil isian kuesioner Anda.  Kesibukan menyita waktu sehingga tidak akan ada yang secara khusus berfungsi mengecek satu persatu antara input dan fisik kuesioner. Tidak akan ada yang mengecek hasil wawancara Anda secara verbatim.  Dalam kondisi ini tanggungjawab pribadi peneliti sangat penting mewarnai hasil penelitian yang benar.

Salah satu contoh research misconduct dalam penelitian medis adalah penggunaan pasien yang tidak beretika. Sebagai misal,  perusahaan medis besar yang memiliki dana melimpah.  Perusahaan bisa saja datang ke negara dengan kemiskinan rendah. Membuat kontrak dengan penduduk lokal. Agar mereka datang ke klinik. Untuk mendapatkan eksperimen pengobatan. Yang hasilnya masih tak diketahui. Dapat merugikan pasien.  Penduduk dengan mudah mengiyakan dan terikat kontrak. Sementara penduduk tadi tidak memahami isi kontrak. Tidak dijelaskan resiko-resiko yang akan dihadapi. Mereka menandatangani kontrak dan datang mengkonsumsi obat dalam percobaan, hanya karena mereka miskin. Membutuhkan beberapa ribu rupiah, beberapa dollar untuk menyambung hidup setiap hari.

Problematika etika dalam belajar dan meneliti bukanlah dominasi universitas dan negeri tertentu.  Bahkan Harvard University, salah satu institusi terelit di Amerika pun dilanda contek massal mahasiswa.  Dari 250 peserta ujian, ditemukan 125 mahasiswa melakukan plagiarisme.  Jawaban ujian sama. Paragraf sama. Pencontekan terorganisir di era digital semua menggoreng telur.   Pondasi intelektual Harvard diuji, dipertanyakan dan goncang karena kasus ini.

“Dugaan ini, jika terbukti, benar-benar merupakan tindakan yang tak bisa diterima yang merusak kepercayaan kepada Harvard sebagai lembaga intelektual,” kata Rektor Harvard University Drew Faust.

Dugaan kecurangan muncul di musim semi, saat seorang instruktur menemukan kesamaan antar-tes. Kasus itu akan dikaji oleh Dewan Administratif Harvard College, yang bertanggung-jawab menangani pelanggaran terhadap peraturan perguruan tinggi (Reuters). Mahasiswa yang terbukti bersalah dapat menghadapi hukuman diskors selama satu tahun.  “Ketidak-jujuran akademis tak dapat dan takkan ditolerir di Harvard,” kata Michael D. Smith, Dekan Fakultas Seni dan Sains.

Ada banyak hukuman yang dapat dijatuhkan kepada pelaku research misconduct. Hukuman pada perilaku tak terpuji di dunia akademik bisa berupa pembuatan ulang paper, penurunan nilai, penghilangan nilai, ketidaklulusan dalam mata kuliah, pemintaan mengundurkan diri dari universitas, pencantuman dalam catatan akademik bila ada yang meminta referensi.

Shoba berpendapat bahwa hukuman terberat  selain semua hukuman di atas adalah penolakan. Penolakan dari rekan, atasan, lingkungan sosial. Ketidakpercayaan dari masyarakat dan lingkungan pendidikan. The most severe punishment from misconduct is social rejection and distrust.

Perilaku research misconduct memiliki empat kontinuum.  Pertama, penelitian berintegritas (research integrity). Kedua, perilaku penelitian yang dipertanyakan (questionable research practices). Ketiga, perilaku penelitian yang tidak dapat diterima (unacceptable research practices). Keempat, perilaku penelitian menyimpang (research misconduct).

Perilaku penelitian yang menyimpang paling sering muncul dalam tiga bentuk. Pertama, fabrikasi.  Ini adalah proses di mana peneliti menghasilkan data. Membuat data. Mengada-adakan data (yang sesungguhnya tidak ada).  Contohnya, bila peneliti melakukan survey, maka fabrikasi berarti kuesioner survei diisi sendiri oleh peneliti.  Bila peneliti melakukan wawancara, maka fabrikasi berarti wawancara tidak pernah dilakukan, namun transkrip wawancara ada karena dibuat oleh peneliti.

Perilaku penelitian menyimpang berikutnya adalah falsifikasi.  Ini adalah proses mengubah data. Mengganti data. Memalsukan data.  Contohnya, data dirubah-rubah oleh peneliti dalam rangka membuat proses dan hasil penelitian sejalan dengan keinginan peneliti.  Pemalsuan data dilakukan agar kesimpulan penelitian sesuai kehendak sponsor.  Manipulasi data merupakan pelanggaran serius dalam penelitian.

Perilaku penelitian menyimpang yang ketiga adalah plagiarisme.  Ini adalah pencurian hasil pekerjaan orang lain, dan mengakuinya sebagai hasil karya pribadi.  Contohnya adalah mengambil ide dan konsep orang lain dan mengakui sebagai idenya.

Salah satu sebab munculnya perilaku menyimpang dalam penelitian adalah tekanan dari pembimbing dan lingkungan akademik itu sendiri.  Sudah jamak diketahui bahwa muncul stress tersendiri bila hasil penelitian tindak menunjukkan signifikansi.  Padahal, hasil penelitian, apa pun itu hasilnya tetap merupakan hasil penelitian yang layak dibahas.  Bila kita memiliki 3 hipotesis dalam penelitian dan 2 diantaranya tidak terbukti, dalam terminologi penelitian itu adalah kondisi wajar. Penelitian ada yang berhasil, ada yang gagal. Uji hipotesis tentu ada yang signifikan, ada yang tidak signifikan.  Yang perlu ditindaklanjuti adalah pembahasan mengapa temuan penelitian tidak signifikan? Apa sebabnya? Bagaimana penjelasannya?

In research, negative result is not a bad result. Not all research get good result.  That is science! The most important in research is report the result and explain why, no matter what is the actual result. 

Mentor memiliki peranan membangun penelitian yang baik.  Cultural mentor berperan membantu peneliti memahami dunia penelitian. Menjelaskan tahapan penelitian yang baik. Menghubungkan dengan pihak-pihak yang membantu penelitian. Memberi informasi sumberdaya bahan yang sejalan dengan tema penlitian. Menjelaskan apa dan siapa tokoh penting terkait penelitian. Dan seterusnya.

Sebaliknya, mentor atau pembimbing juga memiliki peran memperlambat proses penelitian yang baik.  Toxic mentor memiliki perilaku seperti tidak menyediakan waktu untuk bertemu.  Bila diminta janjian tidak memberikan waktu. Bila ditelepon untuk janji temu tidak diangkat. Bila di-SMS untuk janji temu tidak dibalas. Bila datang langsung, ditanya “kok tidak janjian dahulu?”.  Toxic mentor tidak berperan memberikan nasihat dan bimbingan untuk mendapatkan penelitian yang cepat dan baik.

Selesai workshop, kita pun berfoto, tak lupa saya memberinya sebuah buku “Tujuh Langkah Transformasi Manajemen Kinerja”.  Terima kasih Shobha Ramanand.  Semoga  segera mengunjungi Indonesia kembali untuk Workshop “How to Write A Good Research Proposal”.  (dap).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: