STRATEGY IMPLEMENTATION, A QUESTION ON UNCHARTED TERRITORY

Darmin A. Pella

uncharted_territorySeorang eksekutif di sebuah perusahaan global menyatakan “I better have the second class strategy, but first class execution”.  Sebagian orang mungkin tidak setuju pernyataan tersebut.  Sebagian orang mungkin ingin menyatakan bahwa  “I better have the first class strategy, with first class execution”.  

Tetapi nanti dulu.  Apakah semudah membalik telapak tangan mendapatkan first class strategy, with first class execution?  Anda mungkin mengamini bahwa hal tersebut amat tidak mudah.  

Pernyataan “I better have the second class strategy, but first class execution”, harus dipahami,  merupakan hasil perenungan dan kesadaran mendalam bahwa tidak mudah mengimplementasikan strategi semudah memformulasikannya.   Dengan bahasa lain, sulit menghasilkan strategi yang baik, namun jauh lebih sulit lagi mengimplementasikan strategi dengan baik.  Pernyataan “I better have the second class strategy, but first class execution”, harus dipahami, merupakan antitesis dari fakta  yang mungkin sering dialami, yakni perusahaan  terkurung dalam kondisi “have good or best strategy but poor execution”.

 Eksekusi strategi membutuhkan stamina.  Banyak perusahaan kesulitan mengimplementasikan strategi dengan baik.  Dalam mengoperasionalkan strategi menjadi aksi nyata, organisasi menghadapi  ada empat kemungkinan kasus implementasi strategi.  Pertama, strategi yang buruk dan implementasi yang buruk. Kedua, strategi yang baik dan implementasi yang buruk. Ketiga, strategi yang buruk dengan implementasi yang baik.  Keempat, strategi yang baik dengan implementasi yang baik.  Apa sebabnya? Mengapa terjadi? Dan bagaimana menghindarinya?

Strategi yang buruk, dapat terjadi akibat banyak faktor.  Sebab pertama,  organisasi tidak melakukan langkah-langkah analisis strategi dengan baik.  Bukan rahasia umum bahwa perusahaan seringkali  strategi yang tidak dapat divalidasi asal-usulnya. Perusahaan dapat memiliki strategi, namun  bila digali lebih dalam, merupakan strategi yang sifatnya “turun dari langit”.  Strategi yang buruk adalah hasil dari analisis strategis yang keliru. Strategi yang buruk juga bisa merupakan hasil  tidak menggunakan alat bantu analisis strategi yang benar. Ada kemungkinan lain, yakni alat analisis strategik digunakan, namun penggunanya tidak memahami situasi lingkungan bisnis dengan baik.  Alat bantu analisis strategik (strategic analysis tools) dapat salah dipahami, salah digunakan, atau salah diinterpretasikan.

Implementasi strategi yang buruk, dapat diakibatkan lebih banyak lagi faktor.  Organisasi dapat mengimplementasikan strategi dengan buruk bila menghadapi masalah internal dan eksternal.  Masalah internal dapat berupa dukungan keuangan yang kurang memadai, ketidakjelasan dan tumpang tindih struktur, atau ketiadaan dukungan manajemen puncak.  Tidak hanya itu, kegagalan implementasi strategi juga dapat diakibatkan faktor kompetensi kepemimpinan di berbagai level kurang memadai dalam mengawal dan memonitor pelaksanaan strategi.  Rendahnya kualitas implementasi strategi juga dapat disebabkan kurangnya kapasitas perbaikan proses dan inovasi dalam perusahaan. Sebab lain adalah sistem teknologi informasi yang tidak mendukung, budaya perusahaan kurang sehat, konflik antar level manajemen yang tidak terselesaikan, serta banyak lagi kemungkinan sebab lainnya.

Implementasi strategi yang buruk akibat problem  eksternal meliputi permasalahan terkait politik, ekonomi, kebijakan pemerintah, kondisi negara, serta masalah internasional, global, dan makro  ekonomi. Dengan dukungan lingkungan eksternal dan kondisi makro, maka strategi yang baik diimplementasikan dengan baik dapat menjamin kesuksesan organisasi.

Strategi yang dibuat dengan menghabiskan waktu, energi fisik, energi psikis dan material, sangat mungkin tidak mencapai target awal akibatnya buruknya kualitas implementasi strategi.  Strategi dan rencana yang diformulasikan pemerintah, organisasi dan perusahaan dapat mengalami kemunduran dalam pencapaian targetnya. Implementasi strategi yang kurang berkualitas akan menghasilkan revisi target dari tahun ke tahun. Organisasi dan perusahaan memiliki kelemahan dalam mengimplementasikan strategi, rencana, target yang telah diformulasikan dengan baik.

Mengapa tidak mudah mengimpementasikan strategi dengan baik?   Kenyataannya, pemahaman metode peningkatan kualitas implementasi strategi belum dikuasai dengan baik oleh praktisi dan manajemen perusahaan. Di sisi lain, kesenjangan teori dan konsep  yang membahas secara khusus mengenai faktor-faktor yang berpengaruh pada peningkatan kesuksesan implementasi strategi membuat kompetensi mengenai implementasi strategi merupakan kelangkaan. Implementasi strategi merupakan area yang baru bertumbuh dalam literatur manajemen strategik. 

Masih terdapat banyak kesenjangan dalam literatur manajemen strategik mengenai topik implementasi strategi sehingga kesenjangan ini menyediakan ruangan eksplorasi pengembangan konsep, metodologi, alat bantu, pelatihan, dan penerbitan buku  yang luas di masa depan (dap)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: