A NEW TREND ON TALENT STRATEGY

TREND TERBARU STRATEGI TALENTA

change-aheadDarmin A. Pella

Dunia terus berubah, termasuk diantaranya strategi mengenai sumber daya manusia dalam menopang pertumbuhan bisnis.

Di masa lalu, para eksekutif perusahaan mengedepankan strategi pertumbuhan bisnis  dengan bertumpu semata pada kualitas produk, pemasaran, penjualan, dan keuangan.  Kecepatan akuisisi dan imitasi metodologi praktek terbaik dalam kualitas produk, pemasaran, penjualan, dan keuangan yang jauh lebih baik saat ini dibanding beberapa dasawarsa lalu telah mengubah persepsi eksekutif.  Kemajuan teknologi, derap perubahan yang cepat, memendeknya siklus produk dan jasa, serta  kemudahan usang produk dan inovasi, telah menyadarkan eksekutif kita untuk melongok faktor lain yang lebih menjamin kemampuan untuk bertahan, memimpin pasar, dan membangun organisasi yang kompetitif dalam jangka panjang.

Di masa kini, dan ini telah menjadi kecenderungan yang pasti,  semakin banyak eksekutif menyadari bahwa ada satu faktor untuk memenangkan persaingan dalam jangka panjang yang sulit sekali ditiru dan lebih mampu membantu keunggulan organisasi dalam jangka panjang, yakni sumber daya manusia.

Secara pribadi, kami bertemu dan berbicara dengan eksekutif-eksekutif yang menyatakan secara langsung bahwa strategi utamanya adalah sumber daya manusia.  Dalam arti luas ini berarti sumber daya manusia dengan kuantitas yang cukup, dengan kualitas yang sesuai, pada posisi dan peran yang sesuai.

Di masa lalu, perusahaan telah mengakui manajemen talenta sebagai hal penting, namun perspektif yang digunakan masih terbatas hanya pada fungsi rencana suksesi.  Di masa kini, eksekutif puncak perusahaan semakin menyadari bahwa masalah manajemen talenta harus menggunakan pendekatan terintegrasi.   Ide utama yang muncul ialah bahwa pengelolaan manajemen talenta membutuhkan semua unsur di dalam organisasi.  Pengembangan talenta tidak dapat dibebankan pada satu posisi saja yakni manajer SDM.  Pemegang saham, eksekutif puncak, direktur, manajer, supervisor dan karyawan secara bersamaan harus bahu-membahu menjalankan peran yang sama dan sinergis.  Demikian pula dewasa ini, pengembangan talenta tidak dapat hanya dibebankan pada satu departemen saja, yakni departemen SDM.  Departemen produksi, pemasaran, penjualan, rekayasa, penelitian dan penyembangan, keuangan, akuntansi, satuan pengawasan intern, sekertaris perusahaan, dan seterusnya memikul tanggung jawab yang sama dalam menciptakan kapabilitas sumber daya untuk memenangkan situasi yang kian sulit dan persaingan yang kian ketat.

Manajemen talenta menjadi keharusan untuk diadopsi menjadi strategi utama organisasi, bukan lagi strategi pelengkap.  Manajemen semakin menyadari bahwa strategi bersaing melalui manusia sesungguhnya merupakan inti dari kesuksesan memimpin dalam bisnis untuk jangka panjang.

Integrasi proses manajemen talenta telah menjadi isu utama perusahaan dalam satu dekade terakhir.  Fokus integrasi manajemen talenta adalah mengevaluasi lebih cermat seluruh program fungsional yang bersinggungan dengan manajemen talenta dan memastikan sinergi antar proses tersebut.  Untuk melakukan integrasi manajeen talenta, maka proses perencanaan talenta, pengembangan budaya, seleksi rekrutmen, pengembangan karyawan, manajemen kinerja,  pengembangan organisasi, rencana suksesi, dan retensi talenta ditulis ulang dengan cetak biru proses yang baru.   Integrasi manajemen talenta ini menandai pengakuan perusahaan pada babak baru manajemen SDM yakni bahwa manusia kini benar-benar dipandang sebagai asset terpenting bagi perusahaan.

Manusia sebagai asset terpenting perusahaan bukanlah slogan yang hanya dicantumkan di misi, visi, dan pernyataan nilai budaya.  Manusia sebagai asset terpenting perusahaan adalah perwujudan filosofi, paradigma,  cara pandang yang diinjeksikan terus-menerus dalam program berbasis manajemen talenta yang terpusat pada karyawan (employee centric management).  Praktek seperti ini diterapkan dengan serius oleh Time Warner, Hewlett-Packard, Delta Air Lines, Medtronic, PepsiCo, Synovus Financial Corp, dan Johnson & Johnson serta ratusan perusahaan lainnya.  Di perusahaan tersebut, manusia sebagai asset terpenting bukan hanya slogan, tetapi dapat ditelusuri dan divalidasi aplikasinya dalam berbagai kebijakan dan program perusahaan, sejak dari aktifitas perekrutan sampai putusnya hubungan kerja dengan karyawan.

Laporan Conference Board di tahun 2003 menunjukkan bahwa masalah manajemen talenta telah menjadi bagian utama dari strategi korporasi.  Lebih tajam dari masa lalu, strategi organisasi dewasa ini semakin bertumpu pada faktor manusia. Manajemen puncak di berbagai organisasi semakin mengakui bahwa masalah utama dalam strategi yang dihadapi dalam berbisnis adalah manusia.

Sejumlah perusahaan yang menyatakan manusia sebagai asset terpenting melaksanakan manajemen talenta hanya pada saat ekonomi sedang bagus.  Ketika ekonomi mengalami turbulensi dan krisis, seluruh kegiatan pengembangan manusia dihentikan.

Perusahaan yang memiliki kesadaran manajemen talenta pada level tinggi wajib untuk  tidak mengendurkan kegiatan pengembangan manajemen talenta dalam situasi krisis ekonomi.  Pengalaman masa lalu di beberaoa perusahaan menunjukkan, menghentikan atau mengurangi pengembangan manajemen talenta di masa krisis merupakan keputusan yang keliru.  Efek pertama yang muncul dari kekeliruan keputusan tersebut adalah munculnya kesenjangan generasi (generation gap) atau generasi yang hilang (generation lost).  Kesenjangan generasi terjadi akibat proses perekrutan yang berhenti pada tahun tertentu memunculkan kesulitan kaderisasi karena tidak tersedianya karyawan pada kohort yang dibutuhkan.   Masalah kedua yang muncul akibat penghentian pengembangan manajemen talenta di masa krisis adalah berkurangnya kemampuan organisasi berespon dan memanfaatkan peluang di depan mata pada masa terjadinya pemulihan pasca krisis.

Lebih jauh bagaimana mengembangkan program manajemen talenta di perusahaan Anda, dapat Anda simak di Buku “Talent Management:  Mengembangkan SDM untuk mencapai Pertumbuhan dan Kinerja Prima” (Darmin Ahmad Pella dan Afifah Inayati) yang diterbitkan Gramedia.  Anda juga dapat mengundang kami untuk mengembangkan program manajemen talenta di perusahaan Anda (dap).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: