ATTITUDE TOWARD PROBLEM

Dr. Darmin A. Pella

Bukalah koran, majalah, televisi, tabloid, media sosial, apa saja.  Ikutilah seminar, pelatihan, sarasehan, talkshow, apa saja.  Satu yang akan kita temui bersama: masalah.  Masalah negara. Masalah perusahaan. Masalah lembaga publik. Masalah organisasi. Masalah institusi pendidikan.

Begitu bangun tidur, pada napas pertama, kita sudah disergap masalah.  Jadi masalah bukan untuk dihindari, tetapi dihadapi.  Masalahnya (lagi-lagi masalah), saya melihat bahwa sikap terhadap masalah juga sebuah masalah.  Sikap terhadap masalah ini merupakan salah satu pangkal kenapa ada masalah yang membaik. Kenapa ada yang tambah buruk.  Karena itu, di tulisan ini saya akan menghidangkan pencerahan mengenai level-level sikap karyawan terhadap masalah.  Sikap seseorang (pada posisi apapun ia berada), menurut saya, setidaknya, bila disederhanakan, terdiri dari lima level.

Baca lebih lanjut

Iklan

TOLERANSI KESADARAN MASALAH

Darmin A. Pella

images-spidermanpsychpurdueeduSeorang wasit berlari. Dikejar kerumunan pemain yang tidak setuju dengan keputusannya.  Terkena jotosan, ia jatuh, dan ditendang oleh pemain lain yang beringas.  Menonton hal demikian, muncul sikap:  “biasa itu, tidak bisa diatasi, wasitnya juga sih”.

Sebuah perempatan senantiasa macet.  Mendatangi seorang polisi, lalu seorang driver,  muncul komentar: “dari  dulu juga begitu. Pada susah dibilangin sih. Sudah nggak bisa diapa-apain tuh..”   

Metromini trayek S64 jurusan Pasar Minggu – Cililitan ringsek tertabrak KRL Pakuan Ekspress. Metromini itu nekat menerobos celah pintu perlintasan. Akibat insiden tersebut, enam penumpang metromini meninggal. Menanggapi berita ini, muncul sikap: “Ah itu biasa. Hanya enam orang. Sudah tidak bisa di atasi lagi. Diapain juga, nanti akan kejadian lagi”.

“92% pilkada berlangsung dengan aman”. Itulah bunyi petikan iklan di televisi dan media lainnya. Iklan ini menyiratkan suatu kebanggaan. Sayangnya, sekaligus contoh toleransi kesadaran masalah yang longgar. Bila pesannya kita balik, akan berbunyi: “8% pilkada di daerah berlangsung rusuh (dan menimbulkan konflik kepanjangan serta merugikan rakyat)”. Ini juga berarti sekitar 32 pilkada berakhir dengan saling gugat, saling ancam, saling menyerang, dan hasilnya: macetnya pembangunan.  Sekarang kita telah melihatnya sebagai sebuah masalah. Pergeseran toleransi kesadaran masalah membuat kita melihat segala sesuatu dengan hati-hati dan tangungjawab.

Banyak persoalan tidak selesai bukan karena persoalannya rumit untuk dipecahkan. Tetapi batas toleransi kita untuk menganggapnya sebagai masalah terlalu tinggi. Masalah sudah dianggap bukan masalah.

Inilah sikap kurang peduli masalah, warisan masa lalu yang layak kita kikis dari diri sendiri. Inilah akar masalah dari segudang masalah di depan bangsa kita, di dalam perusahaan kita, dan didalam keluarga kita kini.

Baca lebih lanjut